Waspada Reli Palsu Bitcoin, Area US$72.000–US$76.000 Dinilai Rawan Tekanan Jual
- account_circle Rahman
- calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
- visibility 59
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ilustrasi Bitcoin.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA,Duasatunews.com Harga Bitcoin belum menunjukkan kekuatan yang konsisten setelah berulang kali gagal menutup perdagangan harian di atas US$70.000. Hingga Jumat (20/2/2026), aset kripto terbesar ini bergerak terbatas di bawah level tersebut, sehingga pelaku pasar masih memperdebatkan arah selanjutnya.
Data dari TradingView menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pergerakan jangka pendek. Meski sebagian analis melihat peluang penguatan lanjutan, risiko koreksi tetap terbuka.
Analis Peringatkan Potensi Bull Trap
Analis kripto Sherlock menilai reli menuju US$72.000 hingga US$76.000 justru berpotensi berbahaya. Ia menyebut area tersebut sebagai zona rawan yang dapat memicu bull trap atau reli palsu.
Menurut Sherlock, tanpa dorongan permintaan yang kuat, kenaikan harga hanya akan memancing aksi jual baru dari pelaku pasar besar.
Faktor Strategy Jadi Sorotan Pasar
Sherlock menyoroti kepemilikan Bitcoin oleh perusahaan Strategy yang mencapai 714.644 BTC. Perusahaan tersebut membeli Bitcoin dengan harga rata-rata US$76.052 atau sekitar 3,4% dari total pasokan Bitcoin.
Saat harga Bitcoin berada di kisaran US$68.000, kepemilikan tersebut masih mencatat rugi belum terealisasi sekitar US$5,7 miliar. Jika harga naik ke US$74.000–US$76.000, posisi Strategy akan mendekati titik impas.
Level impas sering memicu aksi jual investor besar. Karena itu, area US$76.000 dinilai rawan tekanan meski Strategy berulang kali menegaskan tidak berniat menjual Bitcoin miliknya.
Selain itu, Sherlock juga menyoroti tekanan dari produk Spot Bitcoin ETF. Saat ini sekitar 1,28 juta BTC tersimpan dalam ETF dengan estimasi harga masuk rata-rata di kisaran US$84.000 hingga US$90.000.
Sejak akhir 2025, ETF tersebut mencatat arus keluar bersih lebih dari US$6 miliar. Kondisi ini berpotensi menahan kenaikan harga, bahkan ketika Bitcoin mendekati harga beli rata-rata investor institusional.
Mayoritas Investor Masih Rugi
Sherlock mencatat sekitar 63% nilai investasi Bitcoin memiliki basis biaya di atas US$88.000. Artinya, sebagian besar pembeli pada 2025 masih berada dalam posisi rugi. Jika harga mendekati level tersebut, pasar berpeluang kembali menghadapi tekanan jual.
Ia menilai area US$72.000–US$76.000 dapat menjadi bull trap pertama. Jika tekanan jual berlanjut, jebakan berikutnya bisa muncul di sekitar US$88.000.
Meski begitu, Sherlock mengingatkan bahwa jika setiap level impas selalu memicu aksi jual, Bitcoin akan sulit membentuk dasar harga jangka panjang. Oleh sebab itu, arah pergerakan berikutnya sangat bergantung pada kekuatan permintaan baru dan sentimen pasar global.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: https://duasatunews.com

Saat ini belum ada komentar