Jepang Tetap Bangun Rudal Dekat Taiwan Meski Diperingatkan China
- account_circle Rahman
- calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
- visibility 209
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Sistem rudal pertahanan udara Type 03 Chu-SAM milik Jepang yang dipasang pada kendaraan taktis 8x8, dilengkapi radar phased-array untuk mendeteksi dan mencegat pesawat, rudal, serta drone.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Duasatunews.com) — Pemerintah Jepang tetap melanjutkan rencana penguatan pertahanan udara di pulau terpencil dekat Taiwan. Meski demikian, langkah ini menuai peringatan keras dari China. Namun, Tokyo menegaskan kebijakan tersebut akan terus berjalan.
Kementerian Pertahanan Jepang menargetkan penempatan sistem rudal itu pada awal dekade 2030-an. Dengan demikian, pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan arah penguatan postur pertahanan nasional.
Rencana Penempatan di Yonaguni
Secara khusus, Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menyampaikan rencana pengerahan sistem rudal permukaan-ke-udara Type 03 Chu-SAM. Pemerintah akan menempatkannya di Pulau Yonaguni, Prefektur Okinawa, pada tahun fiskal 2030.
Pulau Yonaguni berjarak sekitar 70 mil dari pantai timur Taiwan. Oleh karena itu, Jepang menilai lokasi ini strategis untuk pertahanan regional. Sementara itu, Koizumi menyebut pemerintah sedang menyiapkan studi dasar serta peningkatan fasilitas militer. Pernyataan tersebut dikutip Newsweek.
Kemampuan Sistem Rudal
Dari sisi teknis, sistem Type 03 Chu-SAM menggunakan kendaraan taktis 8×8. Selain itu, radar phased-array yang terpasang mampu melacak hingga 100 target sekaligus.
Target tersebut mencakup pesawat tempur, rudal balistik, hingga drone. Pada saat yang sama, sistem ini mampu mencegat sekitar belasan sasaran. Namun, jangkauan efektifnya sekitar 30 mil sehingga tidak mencapai wilayah udara China.
Respons Keras Beijing
Meski begitu, China tetap mengecam rencana Jepang. Pemerintah China menyebut langkah ini berbahaya bagi stabilitas kawasan. Bahkan, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menilai Tokyo semakin menjauh dari tatanan pascaperang.
Ia juga menuding kebijakan tersebut mencerminkan ambisi kelompok sayap kanan Jepang untuk melakukan remiliterisasi. Sebelumnya, Beijing telah menyampaikan keberatan serupa atas pernyataan Jepang terkait Taiwan.
Risiko Konflik Regional
Di sisi lain, sejumlah pihak menilai Pulau Yonaguni berpotensi menjadi sasaran jika konflik regional pecah. Terlebih lagi, risiko meningkat bila bentrokan melibatkan Amerika Serikat dan Jepang. Sebagai catatan, Okinawa menampung sekitar 70% instalasi militer AS di Jepang.
Ketegangan Tokyo–Beijing pun meningkat sejak November lalu. Saat itu, Takaichi menyatakan blokade China atas Taiwan dapat memicu keadaan darurat. Akibatnya, China merespons dengan langkah diplomatik balasan.
Pada akhirnya, Jepang berdalih situasi keamanan kawasan semakin memburuk. Dalam pidato perdananya di parlemen, Takaichi menilai negaranya menghadapi kondisi paling kompleks sejak Perang Dunia II. Selain China, ia menyinggung invasi Rusia ke Ukraina serta perkembangan program nuklir Korea Utara.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: https://duasatunews.com

Saat ini belum ada komentar