Tarif Trump Membuat Pasar Waspada, Purbaya Kirim Sinyal Penting ke Investor
- account_circle Rahman
- calendar_month Senin, 23 Feb 2026
- visibility 92
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ilustrasi// kebingungan tarif Trump dan respons Purbaya terhadap dinamika pasar keuangan Indonesia_DN
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Duasatunews.com – Kebingungan tarif Trump kembali menekan sentimen pasar keuangan global dan ikut memengaruhi pergerakan aset di Indonesia. Meski tekanan eksternal meningkat, otoritas moneter menilai fundamental domestik tetap solid dan memberi sinyal penting bagi investor di awal pekan.
Ketidakpastian kebijakan dagang Amerika Serikat membuat pelaku pasar global bersikap lebih hati-hati. Investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan meningkatkan kepemilikan aset aman, terutama dolar AS.
IHSG Masih Menguat Secara Mingguan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (20/2/2026) di level 8.271,76. IHSG melemah tipis 0,03% secara harian, namun tetap mencatat kenaikan 0,72% sepanjang pekan.
Aktivitas pasar berlangsung aktif dengan nilai transaksi Rp20,32 triliun. Investor memperdagangkan 43,12 miliar saham dalam 2,9 juta transaksi. Kapitalisasi pasar turun ke Rp14.941 triliun.
Di tengah kebingungan tarif Trump, investor asing justru membukukan beli bersih Rp240,57 miliar di seluruh pasar. Arus dana ini menunjukkan kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia masih terjaga.
Pergerakan Sektoral Saham
Sektor konsumer non-siklikal memimpin pelemahan dengan penurunan 1,53%. Transportasi dan logistik turun 1,06%, sementara sektor energi terkoreksi 1,02%.
Sebaliknya, sektor infrastruktur menguat 0,92%. Sektor keuangan naik 0,54% dan sektor industri bertambah 0,50%.
Rupiah Bergerak Terbatas
Nilai tukar rupiah menutup perdagangan di Rp16.860 per dolar AS. Rupiah menguat tipis secara harian, namun masih melemah 0,21% secara mingguan seiring penguatan dolar AS di pasar global.
Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia 2025 defisit US$1,5 miliar atau 0,1% dari PDB. Defisit ini jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Peningkatan ekspor manufaktur dan kenaikan remitansi Pekerja Migran Indonesia menjadi faktor utama penopang. Pada kuartal IV-2025, NPI bahkan mencatat surplus US$6,1 miliar.
Pasar Obligasi Masih Waspada
Di pasar surat utang, imbal hasil SBN tenor 10 tahun bertahan di level 6,458%. Meski stabil secara harian, yield tersebut naik 4,87 basis poin sepanjang pekan, mencerminkan aksi jual terbatas investor.
Ke depan, pelaku pasar terus mencermati perkembangan global. Kebingungan tarif Trump dan sikap ketat bank sentral AS masih berpotensi memengaruhi volatilitas pasar, meski stabilitas domestik tetap menjadi penopang utama.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: duasatunews.com

Saat ini belum ada komentar