JAKARTA, (Duasatunews.com) – Harga emas dunia jatuh tajam pada perdagangan Selasa (3/3/2026). Penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi menekan minat investor terhadap logam mulia.
Data perdagangan global menunjukkan harga emas berada di US$5.086,47 per troy ons. Nilai tersebut turun sekitar 4,5% dalam satu hari. Penurunan ini sekaligus menghentikan reli emas selama lima hari sebelumnya.
Koreksi tersebut juga membawa emas ke level terendah sejak pertengahan Februari 2026. Namun pada awal perdagangan Rabu (4/3/2026) pukul 06.30 WIB, harga emas mulai pulih. Nilainya naik sekitar 0,7% menjadi US$5.121,67 per troy ons.
Dolar AS Menguat
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Investor banyak memindahkan dana ke aset yang lebih likuid seperti dolar dan obligasi.
Indeks dolar AS naik hingga 99,07 pada perdagangan Selasa. Angka ini menjadi level tertinggi sejak Januari 2025.
Dolar yang lebih kuat membuat harga emas terasa lebih mahal bagi investor global. Kondisi tersebut menurunkan permintaan emas di pasar internasional.
Ekspektasi Suku Bunga Bergeser
Pasar juga meninjau ulang arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Banyak pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve baru akan memangkas suku bunga pada September 2026.
Sebelumnya, pasar memperkirakan pemangkasan terjadi pada Juli. Perubahan ekspektasi ini menekan harga emas.
Emas biasanya lebih menarik saat suku bunga rendah. Logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga seperti obligasi.
Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran
Situasi geopolitik ikut memengaruhi pergerakan pasar. Konflik yang melibatkan Iran memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Laporan terbaru menyebut gangguan di jalur energi penting Selat Hormuz. Jalur ini menjadi rute utama perdagangan minyak dunia.
Ketegangan tersebut mendorong harga minyak melonjak lebih dari 5%. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Prospek Emas Masih Terjaga
Meski turun tajam dalam jangka pendek, prospek emas masih cukup kuat. Risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi tetap mendorong permintaan aset aman.
Sejak awal 2026, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 19%. Pada tahun 2025, logam mulia ini bahkan melonjak sekitar 64%.
Perak juga menunjukkan kinerja positif. Harga logam tersebut naik lebih dari 16% sepanjang tahun ini.
Kondisi tersebut menunjukkan emas masih menjadi salah satu pilihan utama investor saat ketidakpastian global meningkat.


Saat ini belum ada komentar