Kebijakan AS Taiwan Tetap Sama, Rubio Tegaskan Status Quo
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
- visibility 82
- comment 0 komentar
- print Cetak

Arsip foto - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
WASHINGTON (duasatunews.com) – Kebijakan AS Taiwan kembali menjadi sorotan setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak mengubah posisinya terhadap Taiwan. Menurutnya, mempertahankan status quo menjadi cara terbaik untuk menjaga stabilitas di kawasan.
Rubio menyampaikan pernyataan tersebut saat memberikan kesaksian di hadapan panel Kongres AS pada Selasa (2/6).
Pernyataan Rubio muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut penjualan senjata kepada Taiwan dapat menjadi alat tawar dalam hubungan dengan China.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran sejumlah sekutu AS di Asia. Mereka menilai komitmen Washington terhadap Taiwan dapat bergantung pada hubungan yang lebih luas dengan Beijing.
Rubio membantah anggapan tersebut. Di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, ia menegaskan bahwa kebijakan AS Taiwan tetap konsisten.
“Kami ingin mempertahankan status quo seperti sekarang. Itulah kebijakan kami dan itulah yang terus kami sampaikan,” kata Rubio.
Rubio juga mendampingi Trump dalam kunjungan ke Beijing pada pertengahan Mei. Dalam kunjungan itu, mereka bertemu Presiden China Xi Jinping.
AS dan China Perlu Terus Berdialog
Rubio menilai AS dan China harus terus membuka jalur komunikasi. Menurutnya, kedua negara perlu mengurangi risiko konflik di tengah berbagai perbedaan kepentingan.
Ia mengakui hubungan kedua negara masih menghadapi banyak tantangan. Namun, Washington berupaya menjaga stabilitas strategis sambil mengelola persaingan jangka panjang dengan Beijing.
Rubio menambahkan bahwa komunikasi yang berkelanjutan penting untuk mencegah kesalahpahaman. Menurutnya, kedua negara memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas global sehingga perbedaan harus dikelola melalui jalur diplomasi.
“Kami menyadari ada bidang hubungan yang akan tetap diwarnai persaingan selama beberapa dekade,” ujarnya.
Rubio juga menanggapi paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS untuk Taiwan yang masih tertunda.
Ia menegaskan China tidak memengaruhi proses pengambilan keputusan tersebut. Menurutnya, pemerintah AS akan menentukan waktu dan mekanisme pelaksanaannya sesuai pertimbangan sendiri.
“Mereka terus membicarakan penjualan senjata ke Taiwan, tetapi hal itu bukan faktor yang menghambat keputusan kami,” kata Rubio.
Perundingan dengan Iran Masih Berjalan
Selain membahas hubungan dengan Taiwan, Rubio menjelaskan sejumlah isu kebijakan luar negeri lainnya. Isu tersebut meliputi Iran, NATO, mineral kritis, dan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.
Rubio mengakui proses perundingan dengan Iran tidak berjalan mudah. Ia menilai pemerintahan baru Iran masih menghadapi dinamika internal yang memperlambat respons mereka.
Meski begitu, ia melihat perkembangan positif. Menurutnya, Iran kini bersedia membahas sejumlah aspek program nuklir yang sebelumnya tidak ingin mereka negosiasikan.
“Proses ini memberi kami kesempatan untuk menguji sejauh mana mereka bersedia melangkah,” ujarnya.
Sementara itu, Trump menyatakan bahwa AS dan Iran masih melanjutkan komunikasi melalui jalur diplomatik. Pernyataan itu berbeda dengan laporan media pemerintah Iran yang menyebut kedua pihak sempat menghentikan pertukaran pesan dalam beberapa hari terakhir.
Dengan pernyataan terbaru Rubio tersebut, kebijakan AS Taiwan dipastikan tetap berfokus pada upaya menjaga stabilitas dan mencegah meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik.
Sumber: Kyodo-OANA
- Penulis: Adrian Moita
- Editor: Nur Wayda
