Biopori Jumbo Pondok Kelapa Dipuji Pramono, Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Jakarta
- account_circle Reski
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto:Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau program Biopori Jumbo Pondok Kelapa yang menjadi contoh pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat di Jakarta Timur.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta,(duasatunews.com) – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memuji warga RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, yang mengembangkan pengelolaan sampah organik melalui Biopori Jumbo. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Jakarta.
Pramono meninjau lokasi pengelolaan sampah pada Minggu. Dalam kesempatan itu, ia menilai gerakan warga membuktikan bahwa komunitas mampu menghadirkan solusi lingkungan secara mandiri.
“Gerakan ini menunjukkan solusi lingkungan dapat dimulai dari tingkat komunitas,” kata Pramono.
Berjalan Sebelum Aturan Terbit
Pramono mengapresiasi warga karena mereka memulai pemilahan dan pengolahan sampah sebelum pemerintah menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Selain itu, ia menilai inisiatif tersebut selaras dengan target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mewujudkan pengelolaan sampah berkelanjutan menuju Jakarta bebas sampah (zero waste).
Karena itu, pemerintah berharap semakin banyak lingkungan permukiman yang menerapkan langkah serupa.
Layani Ratusan Rumah
Saat ini, warga RW 014 menyiapkan 150 titik Biopori Jumbo. Fasilitas tersebut melayani sekitar 300 rumah di lingkungan itu.
Selanjutnya, warga memasukkan sisa makanan dan limbah dapur ke dalam lubang biopori. Proses tersebut menghasilkan kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.
Dengan cara itu, warga mampu mengurangi jumlah sampah yang menuju fasilitas pengolahan maupun tempat pembuangan akhir.
Bahkan, Pramono menilai sistem tersebut berpotensi menjadi percontohan bagi wilayah lain di Jakarta.
“Kalau ini berjalan baik, ini bisa menjadi role model penanganan sampah di Jakarta,” ujarnya.
Pengelolaan Sampah Dimulai dari Rumah Tangga
Menurut Pramono, pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Sebab, sampah organik masih menjadi penyumbang terbesar volume sampah di Jakarta.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mengolah sampah organik sejak dari sumbernya. Dengan demikian, beban pengangkutan dan pengolahan sampah dapat berkurang.
Di sisi lain, langkah tersebut juga membantu meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Dorong Kolaborasi dengan Sektor Swasta
Tidak hanya mengelola sampah organik, warga juga menjalin kerja sama dengan sektor swasta untuk menangani sampah anorganik dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Karena itu, Pramono menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, sinergi antara masyarakat dan sektor swasta dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah.
Selain itu, kolaborasi tersebut memastikan proses pemilahan sampah berjalan lebih optimal.
“Kolaborasi seperti ini menjadi kunci pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” katanya.
Pada akhirnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap wilayah lain meniru langkah warga RW 014 Pondok Kelapa. Dengan demikian, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat terus meningkat dan target pengurangan sampah lebih cepat tercapai.
- Penulis: Reski
- Editor: Nur Wayda

Saat ini belum ada komentar