TEL AVIV, Duasatunews.com — Yocheved Lifshitz, sandera Israel yang Hamas bebaskan pada akhir Oktober, kembali menyuarakan harapannya akan perdamaian. Namun, ia menegaskan bahwa perdamaian hanya bisa terwujud jika seluruh sandera segera keluar dari Gaza.
Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News, Lifshitz menyatakan waktu para sandera hampir habis. Ia menyebut suaminya, Oded Lifshitz, sebagai salah satu korban yang masih bertahan di dalam terowongan Hamas.
“Mereka Harus Keluar Sekarang”
“Waktu benar-benar hampir habis,” kata Lifshitz, Senin.
Ia menegaskan para sandera harus keluar sekarang agar tetap hidup.
Menurutnya, penundaan pembebasan hanya akan memperbesar risiko kematian, terutama bagi sandera lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.
Terowongan Tanpa Udara dan Perawatan
Selama lebih dari dua pekan, Lifshitz menjalani penahanan dalam kondisi ekstrem. Ia merasakan minimnya udara, makanan, dan obat-obatan di dalam terowongan.
Kondisi itu, kata Lifshitz, mendorong tubuh menuju kelelahan total.
“Dalam situasi seperti ini, manusia tidak akan bertahan lama,” ujarnya.
Selain itu, suara bombardir terus mengguncang area di atas terowongan. Ketakutan, menurutnya, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para sandera.
Perjalanan Brutal ke Gaza
Lifshitz juga menceritakan perjalanan saat para penculik membawanya ke Gaza. Mereka menyeretnya melintasi perbatasan dengan sepeda motor dan memaksanya berbaring miring.
Sepanjang jalan, kerumunan warga memukulinya dengan tongkat.
Ia menyamakan situasi itu dengan “gerombolan belalang”.
Setelah tiba, para penculik menggiring Lifshitz melewati jaringan terowongan. Di sana, ia melihat sandera lain, termasuk teman-temannya dari Kibbutz Nir Oz, berkumpul di satu ruangan besar.
Pekan Penentuan bagi Sandera
Putri Lifshitz, Sharone Lifshitz, menilai pekan ini sebagai fase paling krusial. Ia khawatir perhatian dunia akan meredup jika pembebasan sandera terus tertunda.
Menurutnya, libur Natal dan Tahun Baru berpotensi mengalihkan fokus internasional.
“Jika pembebasan tidak terjadi minggu ini, banyak dari mereka bisa meninggal,” kata Sharone.
Risiko Kematian Meningkat
Kekhawatiran keluarga sandera meningkat setelah gencatan senjata berakhir pada 1 Desember. Kesepakatan sebelumnya sempat membuka jalan bagi pembebasan lebih dari 100 sandera.
Kini, Israel menyatakan lebih dari 130 sandera masih berada di Gaza. Pemerintah Israel bahkan meyakini 20 di antaranya telah meninggal.
Lifshitz menyoroti kondisi suaminya yang berusia 82 tahun. Oded memiliki tekanan darah tinggi dan penyakit paru-paru.
Ia meragukan kemampuan suaminya bertahan di terowongan tanpa udara segar.
“Saya tidak tahu apakah dia masih bisa bertahan,” ujarnya.
Dalam beberapa kesempatan, Lifshitz hampir menyebut suaminya dalam bentuk lampau. Namun, ia segera membetulkan ucapannya.
“Dia jurnalis yang hebat,” katanya.
“Dia masih ada. Saya tidak ingin mengatakan ‘was’.”

