Warga Desa Sikui Protes Hauling Batu Bara di Jalan Umum Barito Utara
- account_circle Usupriyadi
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 198
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Tangkapan layar dari video yang dikirim Usupriyadi memperlihatkan deretan truk angkutan batu bara melintas di jalan umum pada malam hari di wilayah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah_Dok_KI/Usupriyadi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Duasatunews.com) – Aktivitas hauling batu bara di jalan umum Barito Utara kembali memicu keluhan masyarakat. Warga Desa Sikui, Kecamatan Teweh Baru, menilai lalu lintas truk tambang mengganggu keselamatan pengguna jalan. Selain itu, aktivitas tersebut juga mengurangi kenyamanan warga di sekitar jalur hauling.
Truk angkutan batu bara melintas dari Desa Sikui menuju Desa Hajak Kilometer 18 melalui jalur Banjarmasin–Muara Teweh. Jalur ini berstatus jalan umum dan jalan lintas provinsi. Oleh karena itu, masyarakat menggunakan jalan tersebut setiap hari untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Truk Tambang Gunakan Jalan Umum
Warga menyebut sejumlah perusahaan tambang menggunakan jalan umum sebagai jalur utama angkutan batu bara. Truk roda enam melintas hampir setiap hari dengan muatan berat. Selain itu, jarak hauling mencapai sekitar 28 kilometer.
Jalur tersebut juga menjadi akses utama warga desa. Karena itu, warga menilai penggunaan jalan umum untuk hauling tidak tepat. Jalan umum seharusnya melayani kepentingan masyarakat luas, bukan aktivitas industri tambang.
Menurut warga, truk tambang meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Truk bertonase besar sering melintas pada jam sibuk pagi dan sore hari. Akibatnya, pengendara sepeda motor dan pejalan kaki merasa terancam.
Selain risiko kecelakaan, warga juga menghadapi tekanan psikologis. Banyak orang tua merasa khawatir saat anak-anak melintas di jalan tersebut. Oleh sebab itu, sebagian warga memilih membatasi aktivitas di luar rumah.
Dampak Lingkungan dan Kenyamanan Warga
Aktivitas hauling juga menimbulkan dampak lingkungan. Debu beterbangan saat truk melintas di kawasan permukiman. Sementara itu, suara mesin kendaraan berat mengganggu ketenangan warga.
Kondisi ini terasa paling berat pada pagi dan sore hari. Selain mengganggu aktivitas rumah tangga, kebisingan juga memengaruhi waktu istirahat warga. Karena itu, masyarakat meminta pembatasan aktivitas truk tambang di jalur umum.
Warga juga menyoroti kondisi jalan yang semakin rusak. Aspal retak di beberapa titik yang sering dilalui truk. Bahkan, lubang kecil mulai bermunculan dan melebar saat musim hujan.
Kerusakan tersebut memperlambat mobilitas warga. Selain itu, biaya perawatan kendaraan meningkat. Oleh karena itu, warga meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas hauling.
Warga Desak Tindakan Pemerintah
Salah satu warga Desa Sikui, Hendri Won TK, menyampaikan bahwa masyarakat telah menyuarakan keluhan sejak lama. Namun, hingga kini truk tambang masih melintas di jalan umum.
Ia menegaskan jalan umum harus melayani kepentingan publik. Menurutnya, perusahaan perlu menyediakan jalur hauling khusus. Dengan begitu, keselamatan warga tetap terjaga.
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Barito Utara, DPRD, serta instansi terkait segera turun ke lapangan. Selanjutnya, warga berharap pemerintah menghentikan hauling batu bara di jalan umum dan memperketat pengawasan.
- Penulis: Usupriyadi
- Editor: Rahman
- Sumber: Hendri won TK binti kubeng

Saat ini belum ada komentar