Breaking News
light_mode
Beranda » Ekonomi » Hampar Kisa Mula Sawit Di Papua: Dari Janji Kesejahteraan Hingga Polemik Lingkungan

Hampar Kisa Mula Sawit Di Papua: Dari Janji Kesejahteraan Hingga Polemik Lingkungan

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
  • visibility 531
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAYAPURA, duasatunews.com Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Papua kembali memicu kekhawatiran publik karena dampaknya langsung terhadap hutan, tanah adat, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Di sejumlah wilayah, pembukaan kebun sawit mempercepat hilangnya tutupan hutan sekaligus memicu konflik lahan yang belum terselesaikan hingga kini.

Mengapa Isu Ini Mendesak Sekarang

Sorotan terhadap sawit Papua menguat seiring evaluasi arah pembangunan daerah yang menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Sejak akhir 1980-an, kebijakan investasi perkebunan skala besar membawa sawit masuk ke Papua. Pemerintah kala itu menempatkan komoditas ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Keerom menjadi wilayah awal pengembangan karena luasnya lahan yang dianggap cocok untuk industri perkebunan. Namun, puluhan tahun berjalan, jejak kebijakan tersebut menyisakan persoalan tata kelola, kerusakan ekosistem, dan ketegangan sosial.

Jejak Deforestasi dan Konflik Lahan

Berbagai lembaga lingkungan mencatat pelepasan izin sawit telah mencakup ratusan ribu hektare hutan Papua dalam dua dekade terakhir. Ekspansi ini menempatkan Papua sebagai salah satu kawasan dengan tekanan deforestasi tertinggi akibat industri ekstraktif dan perkebunan.

Alih fungsi hutan adat tidak hanya mengurangi ruang hidup masyarakat, tetapi juga melemahkan sistem ekologis yang menopang pangan, air bersih, dan budaya lokal. Di banyak titik, masyarakat adat harus berhadapan langsung dengan perusahaan akibat tumpang tindih klaim lahan.

Sikap Pemerintah Provinsi Papua

Pemerintah Provinsi Papua menyatakan tidak akan menerbitkan izin baru perkebunan kelapa sawit. Gubernur Papua menegaskan bahwa pembangunan daerah harus berpijak pada keberlanjutan lingkungan dan perlindungan hak masyarakat adat.

Pemerintah daerah menilai pendekatan lama yang mengandalkan eksploitasi sumber daya alam tidak lagi relevan dengan kondisi Papua saat ini. Setiap kebijakan pembangunan, menurut pemerintah, harus menghormati kepemilikan tanah adat dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Respons Publik dan Dunia Usaha

Penolakan terhadap pembukaan izin baru sawit menguat dari tokoh adat, aktivis lingkungan, dan kelompok masyarakat sipil. Mereka menilai kebijakan masa lalu terlalu menempatkan kepentingan ekonomi di atas hak ulayat dan kelestarian hutan.

Sementara itu, pelaku usaha menilai industri sawit masih berkontribusi terhadap lapangan kerja dan pendapatan daerah. Meski demikian, mereka juga mengakui perlunya perbaikan tata kelola, transparansi perizinan, serta pengawasan yang lebih ketat agar konflik dan kerusakan lingkungan tidak berulang.

Dampak bagi Masa Depan Papua

Keputusan menghentikan izin baru berpotensi menekan laju deforestasi dan konflik agraria. Namun, kebijakan ini juga menuntut pemerintah menyiapkan alternatif ekonomi yang berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat lokal, termasuk penguatan sektor pangan, kehutanan sosial, dan ekonomi berbasis adat.

Penataan Ulang Arah Pembangunan

Polemik sawit di Papua mencerminkan tarik-menarik kepentingan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan hak masyarakat adat. Ke depan, perdebatan ini akan terus mengemuka seiring upaya pemerintah pusat dan daerah menata ulang arah pembangunan Papua agar tidak lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam semata.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Basarnas Cari Pesawat Hilang di Maros–Pangkep

    Basarnas Cari Pesawat Hilang di Maros–Pangkep

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 971
    • 0Komentar

    Makassar, duasatunews.com — Basarnas cari pesawat hilang setelah menerima laporan putus kontak pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport di wilayah antara Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) serta Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Berdasarkan laporan awal, tim SAR segera bergerak menuju area pencarian dengan mengacu pada koordinat terakhir dari otoritas navigasi penerbangan. Basarnas Makassar Gerakkan Tim […]

  • Bahlil Lahadalia Kilau Timur di Panggung Nasional saat menjabat Menteri ESDM

    BAHLIL LAHADALIA: KILAU TIMUR DI PANGGUNG NASIONAL

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Admin 21
    • visibility 1.131
    • 0Komentar

    JAKARTA, duasatunews.com | Di tengah dinamika politik dan pembangunan nasional, nama Bahlil Lahadalia semakin menonjol sebagai putra terbaik dari Timur Indonesia. Ia lahir di Banda Neira, Maluku Tengah. Sementara itu, masa kecilnya ia habiskan di Fakfak, Papua Barat. Selain itu, darah Sulawesi Tenggara mengalir dari sang ibu yang berasal dari Tomia, Wakatobi. Dari wilayah yang […]

  • Abdul Ghoni FORKABI, FORKABI, Masyarakat Betawi

    Abdul Ghoni Terpilih Kembali Pimpin FORKABI, Fokus Perkuat Persatuan dan Budaya Betawi

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle Reski
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Jakarta,(duasatunews.com) – Peserta Musyawarah Besar (Mubes) VI Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI) kembali memilih Abdul Ghoni sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FORKABI periode 2026–2031. Dengan demikian, Ghoni akan memimpin organisasi tersebut selama lima tahun ke depan. Abdul Ghoni menyampaikan rasa syukur karena anggota FORKABI terus mendukung kepemimpinannya. Selain itu, ia menegaskan komitmennya untuk […]

  • Trump tunda kunjungan China karena perang Iran

    Trump Tunda Kunjungan China karena Perang Iran

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Washington, (duasatunews.com) — Trump tunda kunjungan China selama sekitar satu bulan karena fokus pada perang yang sedang berlangsung dengan Iran. Keputusan ini membuat agenda pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping harus dijadwal ulang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump awalnya merencanakan kunjungan ke Beijing pada 31 Maret hingga 2 April. Namun, situasi konflik membuatnya memilih tetap […]

  • Pembangunan Papua berbasis etnosains didorong Wamen HAM agar kebijakan lebih selaras dengan kebutuhan masyarakat adat.

    Wamen HAM: Pembangunan Papua Harus Berbasis Etnosains dan Kearifan Lokal

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Reski
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Jakarta,(duasatunews.com)– Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Mugiyanto mendorong pemerintah menjadikan etnosains sebagai fondasi pembangunan di Papua. Ia menilai pendekatan tersebut mampu menghasilkan kebijakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat adat sekaligus memperkuat penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pernyataan itu disampaikan Mugiyanto saat menghadiri Konferensi APS ke-3 di Papua Youth Creative Hub (PYCH), Jayapura, Jumat […]

  • Aktivitas pertambangan di Sulawesi Tenggara yang merusak lingkungan

    HIPPMA Kendari-Jakarta Menyoroti Kerusakan Lingkungan Kian Masif Akibat Aktivitas Pertambangan Nikel di Sulawesi tenggara

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Brian putra
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com — Tambang Sultra terus memicu persoalan serius bagi lingkungan dan masyarakat. Aktivitas pertambangan yang meluas di berbagai wilayah Sulawesi Tenggara kini berdampak langsung pada kualitas lingkungan hidup warga. Ketua Umum Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kendari–Jakarta (HIPPMA), Muh. Siswandi, S.H., menilai perusahaan tambang menjalankan ekspansi tanpa pengawasan ketat. Praktik tersebut mempercepat kerusakan lingkungan darat […]

expand_less