Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Perjuangan Seorang Ayah: Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan Sosial-Ekonomi

Perjuangan Seorang Ayah: Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan Sosial-Ekonomi

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 463
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, Duasatunews.com | Banyak orang menyederhanakan perjuangan seorang ayah dalam menghidupi anak-anaknya dengan keterbatasan ekonomi sebagai kisah ketabahan personal. Masyarakat memotret ayah sebagai figur pekerja keras yang pantang menyerah dan rela mengorbankan tenaga serta waktu demi keluarga. Namun narasi ini, meski terdengar mulia, sering menutup persoalan yang jauh lebih besar: ketimpangan sosial dan ekonomi melanggengkan kemiskinan, bukan semata kurangnya usaha individu.

Kerja Bukan Pilihan, Melainkan Keterpaksaan

Bagi banyak ayah dari keluarga miskin, kerja bukan pilihan, melainkan keharusan tanpa jeda. Setiap hari mereka menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, dan pendapatan yang tidak pasti. Sektor informal memang menyerap jutaan tenaga kerja, tetapi sektor ini hanya menawarkan fleksibilitas semu tanpa perlindungan. Negara belum menjamin kesehatan, hari tua, atau keselamatan kerja mereka. Dalam kondisi seperti ini, kerja keras menjelma siklus bertahan hidup yang melelahkan.

Ketika Sistem Menyalahkan Individu

Sistem ekonomi sering membebankan seluruh tanggung jawab pada pundak ayah. Ketika keluarga gagal memenuhi kebutuhan dasar, masyarakat langsung menuding rendahnya etos kerja. Padahal struktur ekonomi yang timpang membuat kerja sekeras apa pun tidak cukup. Perusahaan meningkatkan produktivitas, tetapi upah tidak bergerak seiring. Sementara itu, biaya hidup terus melonjak dan menekan keluarga pekerja.

Anak-anak dan Warisan Kemiskinan

Kondisi ini langsung memukul kehidupan anak-anak. Keterbatasan ekonomi menurunkan kualitas gizi, membatasi akses pendidikan, dan mempersempit ruang tumbuh yang layak. Banyak anak belajar dengan fasilitas minim, bahkan sebagian ikut bekerja sejak usia dini. Situasi ini tidak mencerminkan kegagalan orang tua. Negara gagal menjamin hak dasar warga ketika pendidikan dan kesehatan masih bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. Akibatnya, kemiskinan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Romantisasi Penderitaan Ayah

Media dan ruang publik kerap mengangkat kisah ayah pekerja keras sebagai inspirasi. Publik merayakan pengorbanan mereka dengan rasa haru. Namun apresiasi ini sering berhenti pada emosi, tanpa mendorong perubahan kebijakan. Romantisasi penderitaan membuat ketidakadilan tampak wajar. Masyarakat tersentuh oleh kisah ayah miskin, tetapi jarang mempertanyakan mengapa sistem terus memaksa mereka hidup dalam kondisi yang sama.

Negara, Kebijakan, dan Tanggung Jawab

Negara tidak boleh hanya hadir melalui slogan atau bantuan sementara. Program bantuan sosial memang membantu, tetapi tidak menyentuh akar persoalan jika pemerintah mengabaikan reformasi struktural. Negara harus menjamin upah layak, melindungi pekerja informal, serta menyediakan pendidikan dan kesehatan yang benar-benar merata. Tanpa langkah ini, ayah akan terus memilih antara bekerja lebih lama atau kehilangan waktu bersama keluarga.

Dari Simpati Menuju Perubahan

Perjuangan seorang ayah mencerminkan kegagalan kolektif. Kebijakan ekonomi lebih sering mengejar pertumbuhan statistik daripada kualitas hidup manusia. Ketika pemerintah mengabaikan pemerataan, jurang antara pemilik modal dan pekerja semakin melebar. Ayah-ayah kelas pekerja menempati posisi paling rentan dalam struktur ini.

Keadilan Sosial sebagai Penutup

Opini ini tidak meniadakan nilai ketabahan dan tanggung jawab personal seorang ayah. Nilai tersebut tetap penting dan layak dihormati. Namun penghormatan sejati menuntut tindakan nyata. Kebijakan publik harus memastikan kerja keras menghasilkan kehidupan yang layak, bukan sekadar kemampuan bertahan.

Masyarakat juga perlu bergerak. Empati sosial harus berubah menjadi kesadaran kolektif yang mendorong perubahan. Ketika kita melihat seorang ayah bekerja keras dalam keterbatasan, kita perlu bertanya: mengapa sistem memaksanya bertahan seperti ini?

Pada akhirnya, seorang ayah berhak bermimpi tentang masa depan anak-anaknya, bukan hanya menghitung kecukupan hari ini. Kerja keras seharusnya membuka jalan menuju pendidikan, kesehatan, dan kehidupan bermartabat. Selama sistem sosial-ekonomi gagal menyelaraskan kerja keras dengan kesejahteraan, perjuangan ayah akan terus menjadi kisah sunyi yang diwariskan lintas generasi.

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • aksi massa terkait dugaan narkoba Lapas Kendari

    Usut Tuntas Dugaan Narkoba di Lapas Kendari

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 321
    • 1Komentar

    Jakarta, Duasatunews.com – Massa kembali turun ke jalan dalam Aksi Jilid II untuk menyuarakan keresahan publik terkait dugaan peredaran narkoba di Lapas Kelas IIA Kendari pada 6 Mei 2026. Mereka menilai persoalan tersebut sudah menjadi ancaman serius bagi integritas lembaga pemasyarakatan. Massa menegaskan bahwa lapas harus menjalankan fungsi pembinaan narapidana, bukan menjadi tempat berkembangnya tindak […]

  • Pasutri Merokok Bawa Bayi di Palmerah, Polisi Terima Laporan

    Pasutri Merokok Bawa Bayi di Palmerah, Polisi Terima Laporan

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Darman
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com — Kasus pasutri bawa bayi di Palmerah menarik perhatian publik setelah sebuah video menyebar luas di media sosial. Video itu menampilkan pasangan suami istri yang merokok sambil mengendarai sepeda motor dan membawa seorang bayi di wilayah Palmerah. Kapolsek Palmerah, Gomos Simamora, membenarkan adanya laporan terkait peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa korban lebih dulu […]

  • Penikaman Karyawan Rich Club Kendari Belum Terungkap

    Penikaman Karyawan Rich Club Kendari Belum Terungkap

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 497
    • 0Komentar

    JAKARTA,Duasatunews.com – Dua pekan setelah insiden penikaman terhadap karyawan Rich Club Kitchen Bar Executive Karaoke and Lounge di Kota Kendari, kepolisian belum menangkap satu pun terduga pelaku. Kondisi ini memicu sorotan publik, terutama setelah aparat menyebut alasan “zona merah” sebagai kendala penangkapan. Para korban melaporkan kasus tersebut secara resmi ke kepolisian. Aparat mengklaim telah mengantongi […]

  • Pasar Kripto Indonesia Terbesar di Dunia

    Pasar Kripto Indonesia Terbesar di Dunia

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 625
    • 0Komentar

    Jakarta, (duasatunews.com) — Indonesia masuk 10 pasar kripto terbesar dunia berdasarkan laporan global yang memantau perkembangan aset digital lintas negara. Pencapaian ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru dalam ekosistem kripto global, seiring meningkatnya jumlah pengguna dan aktivitas transaksi berbasis blockchain. Laporan tersebut menunjukkan bahwa adopsi ritel menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar kripto […]

  • Leo Bagas juara Thailand Masters 2026 di Bangkok

    Leo dan Bagas Raih Gelar Ganda Putra di Thailand Masters 2026

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 670
    • 0Komentar

    JAKARTA, duasatunews.com – Leo Bagas juara Thailand setelah pasangan ganda putra Indonesia itu memastikan gelar di Thailand Masters 2026. Leo Rolly Carnando dan Bagas Maulana menuntaskan partai final sesama wakil Indonesia dengan permainan solid dan terkontrol sepanjang laga. Bertanding di Nimibutr Stadium, Minggu, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana mengalahkan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin melalui dua gim langsung […]

  • Tambang Pulau Senja di Konawe Selatan

    “Tambang Galian C Diduga Ancam Pulau Senja dan Tanjung Kartika”

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Tambang Pulau Senja kembali menuai sorotan publik. Green Institute Sulawesi Tenggara (Sultra) menolak keras aktivitas pertambangan batu gamping di Pulau Senja dan Tanjung Kartika, Konawe Selatan, karena dinilai mengancam ekosistem pesisir dan ruang hidup masyarakat. Jakarta, 4 Januari 2025 — Green Institute Sulawesi Tenggara (Sultra) menolak keras aktivitas pertambangan batu gamping (galian C) yang diduga […]

expand_less