Ruang Tumbuh dan Kiprah Mahasiswa Sulawesi Tenggara di Ibu Kota
- account_circle Brian putra
- calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
- visibility 315
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com — Kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, berkembang sebagai ruang hidup mahasiswa dari berbagai daerah. Selain berfungsi sebagai kawasan hunian, wilayah ini juga menjadi pusat aktivitas akademik dan organisasi mahasiswa perantauan, termasuk mahasiswa asal Sulawesi Tenggara (Sultra).
Mahasiswa Sulawesi Tenggara yang berasal dari 17 kabupaten dan kota memilih Rawamangun sebagai tempat berproses. Mereka datang untuk menempuh pendidikan tinggi, sekaligus membangun kapasitas intelektual dan sosial. Oleh karena itu, aktivitas mahasiswa tidak hanya berpusat pada perkuliahan, tetapi juga pada penguatan organisasi dan jejaring.
Ketua Umum Pemuda 21, Muhammad Julfan Saputra, menilai Rawamangun memiliki posisi strategis. Selain dekat dengan sejumlah kampus, kawasan ini juga mendukung dinamika diskusi dan kegiatan mahasiswa.
“Di Rawamangun, kami aktif berdiskusi dan berorganisasi. Kami membangun tradisi berpikir kritis, baik terhadap isu daerah maupun nasional,” ujarnya.
Selanjutnya, mahasiswa Sultra secara rutin menggelar diskusi ilmiah dan kajian kebijakan publik. Mereka membahas persoalan pendidikan, pembangunan daerah, hingga isu kebangsaan. Di sisi lain, mahasiswa juga menjalankan kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar, sehingga hubungan dengan lingkungan tetap terjaga.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Pemuda 21, Alfan Koriama, menekankan pentingnya pelestarian budaya daerah. Menurutnya, mahasiswa secara aktif menyelenggarakan kegiatan seni dan peringatan hari-hari penting Sulawesi Tenggara.
“Melalui kegiatan budaya, kami menjaga identitas kedaerahan. Pada saat yang sama, kami memperkenalkan kekayaan budaya Sultra kepada masyarakat Jakarta,” katanya.
Dengan demikian, keberadaan mahasiswa Sulawesi Tenggara di Rawamangun menunjukkan semangat perantauan yang produktif. Mereka tidak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga mengasah kepemimpinan dan kepekaan sosial.
Pada akhirnya, Rawamangun menjadi ruang pembentukan karakter mahasiswa sebagai calon intelektual dan pemimpin masa depan. Dari kawasan ini, mahasiswa menyiapkan diri untuk kembali ke daerah dan berkontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Saat ini belum ada komentar