Pusat Data Google di Texas Gunakan Pendingin Hemat Air
- account_circle adrian moita
- calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
- visibility 125
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi logo Google terkait pembangunan pusat data di Texas
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Texas, Amerika Serikat, (duasatunews.com) — pusat data Google di Texas menjadi bagian dari strategi perusahaan teknologi global dalam menekan dampak lingkungan. Google membangun fasilitas pusat data baru dengan teknologi pendingin udara canggih yang mengurangi penggunaan air secara signifikan.
Teknologi Pendingin Minim Air
Mengutip laporan Engadget, Google menjelaskan bahwa sistem pendingin tersebut hampir tidak bergantung pada air. Perusahaan hanya memakai air untuk kebutuhan operasional penting, seperti fasilitas dapur dan area penunjang pusat data. Dengan pendekatan ini, Google berupaya mengurangi tekanan terhadap sumber air tawar.
Investasi Besar di Texas
Pembangunan pusat data ini masuk dalam komitmen investasi Google senilai 40 miliar dolar AS atau sekitar Rp672 triliun. Perusahaan merancang investasi tersebut untuk periode dua tahun di Texas. Google memilih wilayah ini karena infrastruktur energi dan jaringan listriknya mendukung pengembangan pusat data berskala besar.
Penambahan Energi Bersih
Selain membangun fasilitas baru, Google juga memperkuat pasokan listrik ramah lingkungan. Perusahaan bekerja sama dengan sejumlah penyedia utilitas untuk menambahkan sekitar 7.800 megawatt kapasitas energi bersih ke jaringan listrik Texas. Google menilai langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan operasional pusat data.
Sorotan Publik terhadap Pusat Data
Pembangunan pusat data Google di Texas memicu perhatian publik di Amerika Serikat. Sejumlah warga menilai pusat data berpotensi menaikkan tarif listrik. Mereka juga mengkhawatirkan dampaknya terhadap emisi gas rumah kaca dan ketersediaan air tawar.
Pandangan Tokoh Teknologi
Di sisi lain, CEO OpenAI, Sam Altman, menyebut kekhawatiran soal penggunaan air oleh pusat data tidak sepenuhnya berdasar. Menurutnya, pelatihan model kecerdasan buatan memang membutuhkan energi besar, tetapi manusia juga memerlukan energi besar sepanjang proses pembelajaran hidupnya.
Sementara itu, CEO Tesla, Elon Musk, pernah mengusulkan pembangunan pusat data di luar angkasa. Ia menilai gagasan tersebut dapat mengurangi dampak lingkungan di Bumi. Namun, sejumlah pakar menilai konsep itu berpotensi menghadirkan risiko lingkungan baru.
Sumber: Kabarin – Engadget
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: DUASATUNEWS.COM
