Krisis Energi Afrika Meningkat Akibat Konflik Timur Tengah
- account_circle adrian moita
- calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
- visibility 69
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Afrika, (duasatunews.com) – Krisis energi Afrika semakin memburuk akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi minyak global. Dampak gangguan ini mulai terasa di berbagai negara dalam bentuk kelangkaan bahan bakar, kenaikan harga, serta tekanan pada cadangan energi nasional.
Tekanan pada Cadangan BBM
Di Zambia, pemerintah mencatat cadangan bensin sekitar 40 juta liter. Jumlah tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 23 hari pada tingkat konsumsi saat ini. Cadangan minyak tanah mencapai 65,9 juta liter dan diperkirakan bertahan selama 9,3 hari. Sementara itu, bahan bakar penerbangan jenis Jet A-1 hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar 10 hari.
Kondisi serupa terjadi di Afrika Selatan. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar mulai mengalami kekurangan solar. Pemerintah merespons situasi ini dengan memperluas sumber pasokan energi, meningkatkan kapasitas penyimpanan minyak, serta mempercepat pembangunan infrastruktur energi.
Lonjakan Harga BBM di Tengah Krisis Energi Afrika
Di Somalia, lonjakan harga bahan bakar terjadi hingga lebih dari dua kali lipat. Pemerintah setempat langsung mengambil langkah pengendalian dengan membatasi margin keuntungan penjual dan menerapkan sanksi bagi pelanggaran. Selain itu, otoritas juga mengatur jadwal perubahan harga guna menekan fluktuasi ekstrem di pasar.
Sementara itu, Zimbabwe kembali menaikkan harga bahan bakar untuk kedua kalinya. Harga bensin kini mencapai 2,17 dolar AS per liter setelah mengalami kenaikan sebesar 27 persen. Adapun harga solar naik 15 persen menjadi 2,05 dolar AS per liter. Meski harga meningkat, pemerintah memastikan cadangan energi nasional masih cukup untuk lebih dari tiga bulan.
Dampak Konflik terhadap Jalur Energi Global
Tekanan terhadap sektor energi di kawasan tersebut tidak terlepas dari konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Gangguan pada jalur tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi global dan memperburuk kondisi negara-negara yang bergantung pada impor.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak semua pihak untuk menahan eskalasi konflik. Ia menekankan pentingnya diplomasi guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap perekonomian global. Ia juga meminta agar jalur perdagangan energi tetap terbuka demi menjaga stabilitas pasokan.
Ketergantungan Impor Energi Masih Tinggi
Krisis energi Afrika kembali menyoroti tingginya ketergantungan negara-negara di kawasan tersebut terhadap impor energi. Tanpa diversifikasi sumber energi dan penguatan infrastruktur, gejolak geopolitik global akan terus memberi tekanan pada stabilitas ekonomi kawasan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
