RDMP Balikpapan Resmi Beroperasi
- account_circle adrian moita
- calendar_month Senin, 12 Jan 2026
- visibility 145
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (duasatunews.com) – RDMP Balikpapan resmi beroperasi setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikannya di Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Melalui pengoperasian ini, pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas pengolahan minyak di dalam negeri.
Selain itu, proyek pengembangan kilang ini menyerap investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp123 triliun. Dengan capaian tersebut, Kilang Balikpapan milik PT Pertamina (Persero) meningkatkan kapasitas produksi dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Karena peningkatan ini, kilang tersebut kini menjadi yang terbesar di Indonesia.
Dampak RDMP Balikpapan bagi Ketahanan Energi
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi. Menurut Presiden, keberhasilan proyek ini menunjukkan kerja kolektif lintas sektor. Oleh karena itu, pemerintah menilai proyek ini sebagai tonggak penting menuju kemandirian energi.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menjelaskan peran strategis pengoperasian kilang tersebut. Menurutnya, proyek ini mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak.
Kualitas Produk dan Transisi Energi
Selanjutnya, kilang Balikpapan kini memproduksi BBM berstandar Euro 5 dengan kandungan sulfur sekitar 10 part per million (ppm). Sebagai perbandingan, standar Euro 2 sebelumnya mengandung sulfur hingga 2.500 ppm. Dengan peningkatan kualitas ini, pemerintah mendukung kebijakan transisi energi dan pengurangan emisi.
Karena itu, pemerintah merencanakan penghentian impor solar CN 48 mulai awal 2026. Kemudian, pemerintah melanjutkan langkah tersebut dengan menghentikan impor solar CN 51 pada semester II 2026.
Kontribusi Ekonomi Nasional
Lebih jauh, pengoperasian kilang ini diperkirakan menghemat devisa negara lebih dari Rp60 triliun per tahun. Selain itu, proyek ini menyerap sekitar 24.000 tenaga kerja selama fase konstruksi dan operasional. Sementara itu, tingkat komponen dalam negeri mencapai sekitar 30 persen.
Pada akhirnya, Bahlil memproyeksikan kontribusi proyek ini terhadap produk domestik bruto nasional hingga Rp514 triliun per tahun. Dengan demikian, pemerintah akan memfokuskan perhatian pada peningkatan lifting minyak dan gas bumi agar manfaat hilirisasi migas terus berkelanjutan.
- Penulis: adrian moita
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: duasatunews.com
