Uni Eropa Sambut Positif Gencatan Senjata Pemerintah Suriah dan SDF
- account_circle Adrian Moita
- calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
- visibility 245
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bendera Uni Eropa berkibar di markas besar Komisi Eropa di Brussel, Belgia
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Uni Eropa, duasatunews.com — Uni Eropa menyambut positif gencatan senjata antara pemerintah Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di wilayah utara Suriah. Uni Eropa menilai kesepakatan ini dapat menurunkan ketegangan dan membuka peluang stabilisasi keamanan di kawasan yang selama ini kerap dilanda konflik bersenjata.
Juru bicara urusan luar negeri Uni Eropa, Anouar El Anouni, mengatakan kesepakatan tersebut memberi peluang nyata untuk meredam eskalasi. Ia meminta semua pihak menjaga komitmen dan menghindari langkah provokatif yang berpotensi memperburuk situasi di lapangan.
“Kesepakatan ini membuka jalan penghentian kekerasan. Uni Eropa meminta semua pihak menjalankan komitmen secara konsisten,” ujar Anouar El Anouni dalam konferensi pers di Brussels, Jumat (23/1/2026).
Uni Eropa juga mendorong dialog politik lanjutan antara pemerintah Suriah dan SDF. Brussels menilai dialog tersebut perlu membahas isu keamanan wilayah, tata kelola pemerintahan lokal, serta akses bantuan kemanusiaan bagi warga sipil. Sikap Uni Eropa ini sejalan dengan komitmen diplomasi yang sebelumnya dibahas dalam laporan Konflik Suriah Utara di
https://duasatunews.com/konflik-suriah-utara.
Sebelumnya, Presiden Suriah Ahmed Sharaa dan pemimpin SDF Mazloum Abdi menandatangani kesepakatan gencatan senjata baru. Kedua pihak mencapai kesepakatan itu setelah pertempuran sengit di Aleppo dan sejumlah wilayah strategis lain di Suriah utara.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Pertahanan Suriah menetapkan gencatan senjata terbatas selama empat hari di wilayah timur laut. Pemerintah berharap kebijakan ini dapat memulihkan keamanan dan membangun kepercayaan antar pihak. Langkah tersebut juga mendapat perhatian komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memantau situasi Suriah melalui laporan di https://www.un.org.
Pengamat Timur Tengah menilai kesepakatan ini berpotensi menjadi titik awal stabilisasi jangka menengah. Namun, mereka menekankan perlunya pengawasan ketat agar semua pihak mematuhi kesepakatan. Uni Eropa menyatakan akan terus memantau perkembangan dan mendukung solusi politik yang inklusif, sebagaimana tertuang dalam kebijakan luar negerinya di https://www.eeas.europa.eu.

Saat ini belum ada komentar