Jakarta,(duasatunews.com) — Iran mengajukan proposal negosiasi baru kepada Amerika Serikat. Namun, langkah ini langsung memicu ketidakpuasan Presiden Donald Trump. Pasalnya, Iran tidak memasukkan isu nuklir dalam tahap awal pembahasan.
Fokus Awal pada Stabilitas Kawasan
Pertama, Iran menempatkan pembukaan Selat Hormuz sebagai prioritas utama. Jalur ini memegang peran penting dalam distribusi energi dunia. Oleh karena itu, Teheran ingin memastikan stabilitas kawasan lebih dulu.
Selanjutnya, Iran merencanakan pembahasan nuklir pada tahap lanjutan. Dengan demikian, strategi ini menunjukkan pendekatan bertahap dalam negosiasi.
Iran Perkuat Dukungan Regional
Selain itu, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi активно menggalang dukungan. Ia mengunjungi Pakistan, Oman, dan Rusia dalam waktu singkat.
Melalui langkah ini, Iran berupaya membangun legitimasi politik. Di sisi lain, Teheran juga ingin menekan potensi eskalasi konflik.
AS Tegaskan Syarat Utama
Sementara itu, pemerintah AS menolak pendekatan tersebut. Washington menuntut pembahasan nuklir sejak awal.
Trump menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Bahkan, ia menyatakan tidak akan melanjutkan pertemuan tanpa syarat itu. Dengan kata lain, isu nuklir tetap menjadi prioritas utama AS.
Latar Belakang Kesepakatan Sebelumnya
Di samping itu, situasi ini berkaitan dengan kegagalan Joint Comprehensive Plan of Action. Pada 2018, AS keluar dari kesepakatan tersebut.
Akibatnya, Iran kehilangan jaminan politik dan ekonomi. Selain itu, dukungan dari negara Barat juga melemah secara signifikan.
Strategi Jangka Panjang Iran
Lebih lanjut, pengamat menilai Iran menjalankan strategi jangka panjang. Teheran ingin menghindari ketergantungan pada dinamika politik AS.
Karena itu, Iran memperluas komunikasi dengan negara regional. Dengan langkah ini, Iran berharap dapat memperkuat posisi tawar dalam negosiasi.
Prospek Negosiasi Masih Tidak Pasti
Akhirnya, perbedaan posisi kedua negara masih tajam. Isu nuklir tetap menjadi hambatan utama.
Jika kondisi ini berlanjut, negosiasi berpotensi tertunda. Oleh sebab itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah kemungkinan akan terus meningkat.
Saat ini belum ada komentar