Breaking News
light_mode
Beranda » 21 News » PENGUSAHA TAMBANG MEMIMPIN DAERAH TAMBANG

PENGUSAHA TAMBANG MEMIMPIN DAERAH TAMBANG

  • account_circle Admin 21
  • calendar_month Jumat, 21 Mar 2025
  • visibility 1.115
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Eni Samayati

JAKARTA, duasatunews.com – Demokrasi lahir untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Cita-cita itu tertulis tegas dalam Undang-Undang Dasar 1945. Namun hingga kini, keadilan dan kemakmuran masih terasa jauh dari realitas hidup rakyat.

Setiap lima tahun sekali, pesta demokrasi kembali digelar. Pada saat yang sama, para kontestan mengorbankan waktu, tenaga, dan dana dalam jumlah besar. Akibatnya, biaya politik terus melonjak dan menjadi beban serius dalam proses demokrasi.

Modal Besar Menentukan Arah Kekuasaan

Dalam praktiknya, latar belakang calon sering tidak menjadi soal. Sebaliknya, mesin politik bergerak cepat selama modal tersedia. Oleh karena itu, janji politik bertebaran di ruang publik, mulai dari baliho hingga media sosial.

Akhirnya, dari banyak pasangan calon, satu pasangan keluar sebagai pemenang. Setelah itu, euforia kemenangan menggema. Namun masyarakat segera bertanya: apakah janji kampanye akan diwujudkan atau justru dilupakan?

Sumber Daya Alam dan Logika Keuntungan

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Seharusnya, kekayaan itu menjadi penopang kesejahteraan rakyat. Namun dalam kenyataan, negara sering kalah oleh kepentingan segelintir elite ekonomi.

Lebih jauh, banyak pengusaha tambang mengejar keuntungan maksimal tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan. Akibatnya, masyarakat sekitar tambang menanggung kerusakan alam, konflik lahan, dan hilangnya mata pencaharian.

Tambang dan Konflik Kepentingan Kekuasaan

Pilihan rakyat telah sah dan dilegitimasi secara hukum. Meski demikian, pemimpin baru langsung menghadapi persoalan struktural yang rumit. Pertanyaannya kemudian muncul: bagaimana jika pelaku masalah justru berada di pusat kekuasaan?

Bisnis pertambangan memang sangat menggiurkan. Karena itu, sebagian orang rela menukar nurani demi keuntungan. Sulawesi Tenggara pun berubah menjadi magnet eksploitasi. Setelah sumber daya terkuras, banyak pihak pergi tanpa tanggung jawab.

Ketimpangan yang Terang Benderang

Di satu sisi, petani dan buruh memeras keringat demi memenuhi kebutuhan dasar. Di sisi lain, pengusaha cukup menandatangani dokumen untuk meraih keuntungan triliunan rupiah, seperti yang terjadi di Blok Mandiodo.

Padahal, jika dana sebesar itu kembali ke masyarakat, anak-anak tidak perlu putus sekolah karena biaya pendidikan. Sayangnya, para penerima keuntungan tersebut tetap bebas tanpa rasa bersalah.

Hukum yang Kehilangan Arah

Ketika pengusaha masuk ke lingkar kekuasaan, hukum kehilangan ketegasannya. Akibatnya, upaya advokasi sering berujung pada kebuntuan. Demonstrasi berkali-kali hanya menguras energi tanpa hasil nyata.

Selain itu, ratusan perusahaan sebenarnya memiliki kewajiban sosial. Namun dana CSR justru lebih sering mengalir ke elite pengambil kebijakan daripada ke masyarakat terdampak.

Pembiaran dan Pembungkaman Sistemik

Belakangan, isu pembukaan tambang melalui skema “koridor” terus mencuat. Skema ini menguntungkan segelintir pihak, tetapi merugikan negara. Proses penambangan pun sering melanggar prosedur hukum.

Ironisnya, aparat penegak hukum dan pengawas lingkungan memilih diam. Padahal, Sulawesi Tenggara memiliki sumber daya manusia yang mumpuni. Sayangnya, kekuasaan kerap membungkam nalar kritis mereka.

Kekecewaan Publik yang Memuncak

Tagar #INDONESIAGELAP tidak muncul tanpa sebab. Tagar itu lahir dari kekecewaan dan hilangnya kepercayaan publik terhadap penyelenggara negara. Mereka yang hidup nyaman mungkin tidak merasakan kerasnya hidup rakyat kecil.

Oleh karena itu, harapan terhadap pemimpin baru patut dipertanyakan. Bagaimana mungkin seseorang menyelesaikan persoalan publik jika konflik kepentingan masih melekat dalam dirinya?

Kata sebagai Bentuk Perlawanan

Ketika kekuasaan menutup telinga dari teriakan demonstran, tulisan harus tetap berbicara. Jika suara rakyat dibungkam, maka kata-kata harus mencari jalannya sendiri.

Sebab, jika mulut pencari keadilan dikunci, jari tidak boleh ikut terbelenggu oleh lingkaran besi.

Admin 21

Penulis

Update, Akurat & Terpercaya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembongkaran Tiang Monorel Jakarta Ditarget Januari 2026

    Pembongkaran Tiang Monorel Jakarta Ditarget Januari 2026

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 551
    • 0Komentar

    JAKARTA, duasatunews.com — Pembongkaran Tiang Monorel Jakarta kembali mencuat setelah hampir dua dekade proyek tersebut mangkrak dan membebani wajah ibu kota. Kini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan tenggat waktu tegas untuk mengakhiri kebuntuan yang berkepanjangan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pemerintah akan memulai pembongkaran pada minggu ketiga Januari 2026. Pemprov DKI memberi waktu satu […]

  • Soeharto Pahlawan Nasional Presiden kedua Republik Indonesia

    Soeharto dan Gelar Pahlawan Nasional: Analisis Sejarah, Politik, dan Moral

    • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
    • account_circle Saydul La Opua
    • visibility 949
    • 1Komentar

    Jakarta, duasatunews.com – Presiden Prabowo Subianto menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 pada 10 November 2025. Keputusan ini segera memicu perdebatan luas di ruang publik dan media nasional. Publik kembali menilai posisi Soeharto dalam sejarah Indonesia, antara prestasi pembangunan dan kontroversi kekuasaan Orde Baru. Soeharto menjabat sebagai Presiden kedua […]

  • Dee Lestari literasi bersama BI NTT di Kupang

    BI NTT Gandeng Dee Lestari Perkuat Literasi Daerah di Kupang

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 179
    • 1Komentar

    Jakarta, (duasatunews.com) – menggandeng novelis ternama Indonesia, Dewi Lestari, untuk memperkuat budaya literasi masyarakat di Kota Kupang. Kegiatan itu menjadi bagian dari peringatan World Book Day 2026 dengan tema “Connected by Literacy: Building Future-Ready Communities”. Deputi Kepala Perwakilan BI NTT Rio Khasananda mengatakan literasi menjadi jembatan penting menuju masyarakat yang adaptif dan berdaya saing. Ia […]

  • Hampar Kisa Mula Sawit Di Papua: Dari Janji Kesejahteraan Hingga Polemik Lingkungan

    Hampar Kisa Mula Sawit Di Papua: Dari Janji Kesejahteraan Hingga Polemik Lingkungan

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 559
    • 0Komentar

    JAYAPURA, duasatunews.com — Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Papua kembali memicu kekhawatiran publik karena dampaknya langsung terhadap hutan, tanah adat, dan keberlanjutan hidup masyarakat. Di sejumlah wilayah, pembukaan kebun sawit mempercepat hilangnya tutupan hutan sekaligus memicu konflik lahan yang belum terselesaikan hingga kini. Mengapa Isu Ini Mendesak Sekarang Sorotan terhadap sawit Papua menguat seiring evaluasi […]

  • Berikut perubahan pasal penghinaan pemerintah hingga perzinaan dalam KUHP baru

    Berikut perubahan pasal penghinaan pemerintah hingga perzinaan dalam KUHP baru

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Darman
    • visibility 407
    • 0Komentar

    JAKARTA, Duasatunews.com – Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru memicu kegelisahan publik. Sejumlah kelompok masyarakat menilai beberapa pasal berpotensi menekan kebebasan berpendapat. Karena itu, isu ini menyentuh langsung kualitas demokrasi dan perlindungan hak sipil warga. Momentum Pemberlakuan Jadi Sorotan Kekhawatiran tersebut menguat seiring rencana penerapan KUHP baru secara nasional. Pada saat yang sama, partisipasi […]

  • Jokowi Bekerja Mati-matian untuk PSI, Ditetapkan Jadi Tokoh Utama Kampanye

    Jokowi Bekerja Mati-matian untuk PSI, Ditetapkan Jadi Tokoh Utama Kampanye

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Makassar, duasatunews.com — Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, menegaskan kesiapan dirinya untuk bekerja mati-matian demi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pernyataan tersebut Jokowi sampaikan saat menghadiri Rapat Kerja Nasional PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026). Dalam kesempatan itu, Jokowi menyamakan semangat perjuangannya dengan para kader PSI. Ia kemudian menekankan bahwa perjuangan politik menuntut kerja keras […]

expand_less