Mahasiswa Boikot Kantor Penghubung di Jakarta, Tagih Janji Manis Gubernur Sultra Soal Asrama Dan Bantuan Anak Yatim.
- account_circle Afs
- calendar_month Jumat, 26 Sep 2025
- visibility 806
- comment 0 komentar
- print Cetak

Aksi mahasiswa Sulawesi Tenggara menggelar boikot di depan Kantor Penghubung Pemerintah Provinsi Sultra di Jakarta untuk menagih janji Gubernur terkait asrama dan bantuan mahasiswa yatim.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, duasatunews.com – Aksi mahasiswa Sultra di Jakarta kembali menggema. Pada Jumat (26/9/2025), puluhan mahasiswa asal Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar aksi boikot di depan Kantor Penghubung Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Aksi ini muncul sebagai respons atas belum terealisasinya janji bantuan asrama mahasiswa serta bantuan bagi mahasiswa yatim.
Mahasiswa yang tergabung dalam Pemuda 21 Sultra dan elemen kepemudaan menyuarakan kekecewaan secara terbuka. Namun demikian, mereka tetap menjaga aksi berlangsung tertib. Mereka menilai Gubernur Sulawesi Tenggara belum menunjukkan keseriusan dalam menepati komitmen kepada mahasiswa perantauan di Jakarta.
Kondisi Asrama Dinilai Kian Mengkhawatirkan
Dalam aksi mahasiswa Sultra di Jakarta tersebut, massa menyoroti kondisi asrama mahasiswa yang semakin tidak menentu. Sementara itu, sejumlah asrama dilaporkan telah habis masa kontraknya. Akibatnya, sebagian mahasiswa terancam kehilangan tempat tinggal.
Selain persoalan kontrak, mahasiswa juga menyoroti minimnya komunikasi dari pemerintah provinsi. Padahal, asrama berperan penting dalam mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa di perantauan. Oleh karena itu, mahasiswa menilai ketidakjelasan kebijakan ini berdampak langsung pada kondisi ekonomi dan psikologis mereka.
Lebih lanjut, mahasiswa menegaskan bahwa persoalan asrama tidak bisa dianggap sebagai isu kecil. Sebaliknya, masalah ini menyangkut hak dasar mahasiswa Sultra untuk mendapatkan dukungan pendidikan dari daerah asalnya.
Arin Fahrul Sanjaya, kader Pemuda 21 Sultra Jakarta, menyampaikan tuntutan tersebut secara langsung. Dengan tegas, ia meminta pemerintah provinsi berhenti menyampaikan janji tanpa realisasi.
“Kami tidak membutuhkan janji di depan kamera. Sebaliknya, kami menuntut bukti nyata. Asrama mahasiswa Sultra di Jakarta tidak mendapat perhatian serius. Oleh karena itu, pemerintah provinsi harus hadir dan bertanggung jawab,” ujar Arin.
Penyegelan Simbolis dan Tuntutan Audiensi
Aksi mahasiswa Sultra di Jakarta berlangsung damai. Meski demikian, mahasiswa tetap menyampaikan pesan politik secara jelas. Mereka tidak melibatkan aparat kepolisian dalam pengamanan aksi.
Sebagai bentuk tekanan moral, massa melakukan penyegelan simbolis di gerbang Kantor Penghubung Pemprov Sultra. Dengan langkah ini, mahasiswa ingin menunjukkan keseriusan tuntutan mereka.

Selain itu, mahasiswa mendesak pemerintah provinsi segera membuka audiensi terbuka. Tujuannya, agar pemerintah dapat menjelaskan secara transparan progres bantuan asrama dan bantuan mahasiswa yatim. Dengan demikian, mahasiswa berharap tidak ada lagi janji yang berakhir tanpa kepastian.
Pada akhirnya, mahasiswa menegaskan akan melanjutkan aksi serupa jika Gubernur Sulawesi Tenggara tidak memberikan respons resmi. Karena itu, mereka mengajak seluruh elemen mahasiswa Sultra di perantauan untuk terus mengawal isu ini secara kolektif dan berkelanjutan.

Saat ini belum ada komentar