Breaking News
light_mode
Beranda » Sosok » Menolak Lupa: Laksamana Perempuan Pertama di Ujung Pulau Sumatera yang menggemparkan dunia membentuk pasukan Inong Balle Melawan Penjajah

Menolak Lupa: Laksamana Perempuan Pertama di Ujung Pulau Sumatera yang menggemparkan dunia membentuk pasukan Inong Balle Melawan Penjajah

  • account_circle Brian putra
  • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
  • visibility 204
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, duasatunews.com — Sejarah Indonesia mencatat sosok luar biasa bernama Laksamana Malahayati, laksamana perempuan pertama di dunia yang berasal dari Aceh. Pada abad ke-16, saat kekuatan Eropa mulai mencengkeram Nusantara, Malahayati memimpin perlawanan laut secara langsung demi menjaga kedaulatan wilayah Aceh. (06/01/2026)

Perempuan yang Membalik Logika Zaman

Di ujung barat Nusantara, ketika bangsa Eropa memetakan dunia dengan sudut pandang kolonial, Malahayati justru muncul dan menentang logika zamannya. Ia tidak hidup di balik istana, tetapi berdiri di geladak kapal sebagai panglima laut yang memegang komando penuh atas armada perang Aceh.

Melalui kepemimpinannya, Malahayati menantang dominasi kolonial dan patriarki sekaligus. Ia membuktikan bahwa keberanian dan kecakapan, bukan gender, yang menentukan kepemimpinan.

Laut, Darah, dan Kehormatan Aceh

Pada akhir abad ke-16, Kesultanan Aceh Darussalam menjelma sebagai kekuatan maritim utama di Asia Tenggara. Selat Malaka menggerakkan perdagangan dunia, dan Aceh menguasai jalur strategis tersebut.

Portugis dan Belanda datang membawa senjata serta ambisi. Namun, Aceh menghadapi mereka tanpa gentar. Dalam situasi itulah Malahayati memimpin armada laut Aceh, merancang strategi tempur, mengatur diplomasi, dan memimpin perlawanan langsung di laut.

Inong Balee: Dari Duka Menjadi Senjata

Malahayati mengambil langkah berani dengan membentuk Pasukan Inong Balee, pasukan laut yang beranggotakan para janda pejuang Aceh. Mereka kehilangan suami di medan perang, tetapi menolak tunduk pada kesedihan.(https://kebudayaan.kemdikbud.go.id

Di bawah komando Malahayati, pasukan Inong Balee berlatih, berlayar, dan bertempur sebagai kekuatan militer yang disiplin. Malahayati mengubah duka menjadi senjata dan membuktikan peran strategis perempuan dalam perang maritim.

Duel Laut yang Mengubah Sejarah

Pada tahun 1599, armada Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman memasuki perairan Aceh dengan sikap arogan. Mereka menganggap Aceh sebagai wilayah yang mudah ditaklukkan.

Malahayati menyambut mereka dengan perlawanan keras. Ia memimpin langsung pertempuran laut dan menewaskan Cornelis de Houtman dalam duel. Peristiwa itu mengejutkan dunia Barat—seorang perempuan Asia menjatuhkan laksamana Eropa di medan perang.

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Aceh Darussalam dikenal sebagai kekuatan maritim besar di Nusantara. Hal ini sejalan dengan catatan sejarah dalam artikel Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam yang menegaskan peran Aceh dalam perdagangan dunia.

Perjuangan Laksamana Malahayati juga memperkaya deretan pahlawan perempuan Indonesia yang berperan penting dalam melawan kolonialisme.

Kematian de Houtman memaksa Belanda mengubah sikap. Mereka tidak lagi datang sebagai penakluk, melainkan sebagai pihak yang meminta perundingan damai.

Harga Kesombongan Kolonial

Kematian Cornelis de Houtman meruntuhkan mitos superioritas kolonial Eropa. Belanda harus duduk sejajar dengan Aceh tanpa keunggulan moral maupun militer. Peristiwa ini menandai kemenangan diplomasi dan perlawanan Aceh di tingkat global.

Mengapa Malahayati Harus Diingat

Malahayati tidak hidup sebagai legenda kosong. Arsip kolonial, peta benteng, dan ingatan kolektif Aceh mencatat kiprahnya secara nyata. Ia membuktikan bahwa:

  • Kepemimpinan lahir dari keberanian dan kapasitas

  • Perlawanan Nusantara memiliki dampak internasional

  • Perempuan Indonesia telah merebut peran strategis sejak awal sejarah

Namun, generasi muda sering luput mengenal kisah perjuangannya.

Menolak Lupa, Merawat Sejarah

Kisah Malahayati bukan sekadar catatan masa lalu. Nilai keberanian, kepemimpinan, dan cinta tanah air yang ia wariskan tetap relevan hingga hari ini. Sejarah akan terus hidup selama bangsa ini terus menceritakannya.

Mengingat Malahayati berarti melawan penghapusan sejarah. Ia membuktikan bahwa Nusantara pernah menjadi pusat kekuatan dunia, dan bahwa perempuan tidak menunggu pengakuan—mereka merebutnya melalui perjuangan.

Perjuangan Laksamana Malahayati juga menegaskan peran besar perempuan dalam sejarah Indonesia. Kisahnya melengkapi deretan pahlawan perempuan Indonesia yang berkontribusi nyata dalam melawan penjajahan dan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Brian putra

Penulis

Update, Akurat dan Terpercaya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prabowo cabut izin perusahaan yang melanggar aturan

    Prabowo Cabut Izin Perusahaan yang Melanggar Aturan

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 202
    • 0Komentar

    JAKARTA, duasatunews.com — Presiden Prabowo Subianto menegaskan sikap pemerintah dengan mencabut izin perusahaan yang melanggar aturan. Presiden menyatakan tidak akan ikut campur dalam proses pencabutan izin usaha, meskipun perusahaan tersebut berpotensi melibatkan pihak yang memiliki kedekatan pribadi maupun politik dengannya, termasuk kader Partai Gerindra. Prabowo menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri Panen Raya dan Pengumuman Swasembada […]

  • akses keadilan hukum bagi masyarakat kecil di Indonesia

    Hukum yang Seharusnya Melindungi Rakyat, Kini Menjadi Labirin Mahal dan Rumit

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Muh. Siswandi,. S.H
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com – Akses keadilan hukum masih menjadi persoalan mendasar bagi masyarakat Indonesia. Sistem hukum yang seharusnya melindungi warga justru sering membebani rakyat kecil melalui biaya tinggi, prosedur berlapis, dan proses panjang yang sulit mereka jangkau. Kondisi ini membuat banyak warga mengurungkan niat membawa persoalan ke ranah hukum. Ketimpangan Penegakan Hukum Kian Terlihat Isu ini […]

  • Infografik BMKG dampak Siklon Tropis PENHA dan Bibit Siklon 98P terhadap hujan lebat dan gelombang laut di Indonesia

    Dampak Siklon PENHA: BMKG Waspadai Cuaca Ekstrem Februari

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 81
    • 0Komentar

    JAKARTA, (duasatunews.com) – Dampak Siklon PENHA menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pertengahan Februari 2026. BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, serta gelombang laut tinggi di sejumlah wilayah Indonesia. Pengaruh Siklon terhadap Atmosfer Indonesia Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa Siklon Tropis […]

  • kepemilikan lahan Bupati Konsel di wilayah tambang nikel

    IPPMI Konsel Soroti Dugaan Kepemilikan Lahan Virgin 11 Hektar Oleh Bupati Konsel di IUP PT. WIN

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2025
    • account_circle Afs
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com – Kepemilikan lahan Bupati Konsel kembali menjadi sorotan publik. Isu ini mencuat setelah Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Konawe Selatan (IPPMI Konsel) mengungkap dugaan kepemilikan lahan di wilayah tambang nikel Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Ketua IPPMI Konsel, Arin Fahrul Sanjaya, menyebut dugaan kepemilikan lahan Bupati Konsel seluas 11 hektar berada di […]

  • bahasa Tolaki di kalangan anak muda Sulawesi Tenggara"

    Bahasa Tolaki dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Darman
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com | Fenomena semakin jarangnya anak muda Tolaki menggunakan bahasa ibu di ruang publik bukan sekadar persoalan pilihan bahasa. Gejala ini menunjukkan pergulatan identitas yang lebih dalam, yakni krisis kepercayaan diri kultural di tengah arus modernitas. Bahasa Daerah dan Beban Persepsi Sosial Di banyak ruang sosial, masyarakat kerap memandang bahasa daerah sebagai sesuatu yang […]

  • Uji materi Pasal 218 KUHP di Mahkamah Konstitusi

    Uji Materi Pasal 218 KUHP Masuk Mahkamah Konstitusi

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com — Sejumlah mahasiswa Program Studi Hukum Universitas Terbuka mengajukan uji materi Pasal 218 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) ke Mahkamah Konstitusi. Pasal tersebut mengatur tindak pidana penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden. Melalui permohonan ini, para mahasiswa menggunakan hak konstitusional mereka. Selain itu, mereka menuntut kepastian hukum […]

expand_less
Lewat ke baris perkakas