Breaking News
light_mode
Beranda » Daerah » Kisah suku Nomaden di pusat pembangunan Papua yang harus gotong orang sakit lewati hutan belantara – “Mengapa negara tidak melihat kami?

Kisah suku Nomaden di pusat pembangunan Papua yang harus gotong orang sakit lewati hutan belantara – “Mengapa negara tidak melihat kami?

  • account_circle Darman
  • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
  • visibility 483
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Warga adat Elseng Kampung Omon di Kabupaten Jayapura, Papua, telah lebih dari tiga dekade meninggalkan pola hidup nomaden atas permintaan pemerintah. Namun hingga kini, warga masih hidup terisolasi tanpa akses listrik, pendidikan, layanan kesehatan, dan jaringan komunikasi.

Jakarta, duasatunews.com — Komunitas adat Elseng telah lebih dari tiga dekade meninggalkan pola hidup nomaden setelah pemerintah meminta mereka menetap di Kampung Omon, Kabupaten Jayapura, Papua. Namun hingga kini, kampung binaan tersebut belum menyediakan fasilitas dasar bagi warganya.

Kampung Omon yang berada di perbukitan sisi selatan Jayapura itu belum memiliki listrik, sekolah, layanan kesehatan, maupun jaringan telekomunikasi. Kondisi ini membuat warga hidup dalam keterisolasian ekstrem di tengah wilayah yang sejak lama diproyeksikan sebagai pusat pemerintahan.

Warga Menggotong Pasien Berjam-jam Melintasi Hutan

Setiap kali warga Elseng jatuh sakit parah, keluarga dan kerabat harus menggotong pasien dengan berjalan kaki selama enam hingga delapan jam menuju kampung terdekat yang memiliki fasilitas kesehatan. Mereka melewati jalan setapak curam dan licin di tengah hutan hujan tropis.

Tidak jarang pasien meninggal dunia sebelum mencapai klinik. Dalam sejumlah peristiwa, keluarga memakamkan jenazah di tengah hutan, tepat di jalur yang sebelumnya mereka lalui untuk mencari pertolongan medis.

Janji Pembangunan Tak Pernah Terwujud

Salah satu tokoh adat Elseng menyampaikan kekecewaan warga terhadap negara. Menurutnya, pemerintah meminta mereka menetap dengan janji pembangunan, tetapi hingga kini warga belum merasakan kehadiran negara secara nyata.

“Kami sudah diminta tinggal menetap di sini, tapi negara tidak pernah benar-benar hadir,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah gagal menepati komitmen awal yang menyertai perubahan cara hidup masyarakat adat Elseng.

Wilayah Tua Administratif, Namun Warga Tetap Terpencil

Secara administratif, Kampung Omon berada di Kabupaten Jayapura, salah satu wilayah tertua di Tanah Papua. Sejak masa kolonial Belanda, kawasan ini dirancang sebagai pusat pemerintahan dan status tersebut berlanjut setelah Papua bergabung dengan Indonesia pasca Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

Ironisnya, sebagian masyarakat adat di wilayah tersebut justru hidup tanpa akses pendidikan, layanan kesehatan, dan sarana komunikasi. Anak-anak Elseng nyaris tidak tersentuh pendidikan formal, sementara layanan dasar masih menjadi kebutuhan yang belum terpenuhi.

Pemerintah Daerah Akui Keterisolasian

Wakil Bupati Jayapura, Haris Yocku, mengakui bahwa Kampung Omon termasuk wilayah terisolasi dengan tantangan geografis yang berat. Ia menyebut jarak dan kondisi alam sebagai kendala utama pembangunan.

Menurut Haris, pemerintah daerah telah memasukkan pembangunan jalan menuju Kampung Omon ke dalam agenda prioritas guna membuka keterisolasian warga.

“Pemerintah daerah sudah merencanakan pembangunan akses jalan menuju Kampung Omon agar masyarakat tidak lagi terisolasi,” ujarnya.

Warga Masih Menunggu Kehadiran Negara

Bagi warga Elseng, rencana pembangunan bukanlah hal baru. Selama puluhan tahun, mereka hidup berdampingan dengan berbagai proyek dan narasi pembangunan Papua. Namun dalam praktiknya, mereka tetap harus memikul orang sakit melintasi hutan belantara demi mendapatkan layanan kesehatan.

Kondisi tersebut menjadi gambaran kontras antara narasi kemajuan dan realitas yang masih dihadapi masyarakat adat di pedalaman Papua.

Darman

Penulis

Cepat, Akurat & Terpercaya

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • nafas ekonomi batu bara Indonesia dari tambang hingga industri energi

    Nafas ekonomi dari komoditas padat hitam perut bumi

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Reski
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Jakarta,(duasatunews.com)Transformasi batu bara ke produk bernilai tambah menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Hilirisasi membuka peluang baru, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dalam menjawab tuntutan global terhadap energi yang lebih berkelanjutan. Pengembangan artificial graphite untuk baterai kendaraan listrik menempatkan batu bara dalam rantai pasok industri masa depan. Ini menunjukkan […]

  • seminar nasional hilirisasi sultra lp2d di kendari

    Eni Samayati : Hilirisasi Pertambangan Menjadi Motor Penggerak Kesejahteraan Rakyat

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • visibility 2.241
    • 1Komentar

    Seminar Nasional Hilirisasi Sultra Dorong Keadilan Energi Jakarta, duasatunews.com |Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Daerah (LP2D) menggelar seminar nasional bertema hilirisasi dan energi baru terbarukan (EBT) di Kota Kendari, Selasa (20/5/2025). LP2D bekerja sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan PUSPIN-EBT dalam kegiatan ini. Seminar tersebut mendapat dukungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), […]

  • pembangunan sumur bor bencana oleh TNI

    Presiden Prabowo Nilai Biaya Sumur Bor Rp150 Juta Relatif Murah untuk Air Minum Warga Terdampak Bencana

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 538
    • 0Komentar

    Biaya sumur bor bencana menjadi sorotan publik setelah ramai dibahas warganet. Presiden Prabowo Subianto menilai anggaran Rp100–150 juta per titik masih wajar karena langsung memenuhi kebutuhan air bersih korban bencana. Jakarta, duasatunews.com – Perbincangan warganet soal biaya pengeboran sumur bor di wilayah terdampak bencana menguat di ruang publik. Presiden Prabowo Subianto membahas isu tersebut dalam […]

  • Stop Impor Solar, Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi

    Stop Impor Solar, Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Brian Putra
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Jakarta, (duasatunews.com) – Stop impor solar menjadi kebijakan strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui langkah ini, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan pada pasokan bahan bakar dari luar negeri sekaligus mengoptimalkan potensi energi dalam negeri secara bertahap dan berkelanjutan. (17/02/2026). Pemerintah menegaskan kebijakan stop impor solar, sebagai bagian dari reformasi sektor energi nasional. Menteri Energi […]

  • Puan Maharani menekankan etika dalam mengkritik saat konferensi pers di DPR RI

    Kritik Disorot, Puan Maharani Tekankan Etika dan Saling Hormat dalam Demokrasi

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Reski
    • visibility 70
    • 1Komentar

    Jakarta,(duasatunews.com)//Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti pentingnya etika dalam mengkritik di tengah meningkatnya laporan hukum terhadap pengamat dan akademisi. Ia menilai masyarakat tetap perlu menjaga kesantunan saat menyampaikan pendapat di ruang publik agar tidak memicu polemik berkepanjangan. Puan menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan bagian penting dari demokrasi yang harus dijaga. Namun, ia mengingatkan bahwa kebebasan […]

  • bibir kering saat puasa akibat dehidrasi

    Bibir Kering Saat Puasa: Penyebab dan Cara Mengatasinya

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Jakarta, (duasatunews.com) — Banyak orang mengalami bibir kering saat puasa. Bibir biasanya terasa kasar, pecah-pecah, perih, bahkan bisa berdarah. Meski terlihat ringan, kondisi ini sering mengganggu kenyamanan, terutama ketika sahur dan berbuka. Selama puasa, tubuh tidak menerima asupan cairan dan makanan selama lebih dari 12 jam. Akibatnya, tubuh kehilangan cairan dan memicu dehidrasi ringan. Kondisi ini […]

expand_less