Kejagung Tahan 11 Tersangka Korupsi Ekspor CPO dan POME, Negara Berpotensi Rugi Hingga Rp14 Triliun
- account_circle Rahman
- calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
- visibility 119
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tersangka kasus dugaan korupsi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan palm oil mill effluent (POME) berjalan menuju mobil tahanan usai pemeriksaan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (10/2/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, duasatunews.com – Korupsi ekspor CPO kembali menjadi sorotan publik setelah aparat penegak hukum menahan sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam penyimpangan kebijakan perdagangan sawit. Kasus ini mengancam keuangan negara hingga belasan triliun rupiah dan memperlihatkan rapuhnya pengawasan sektor strategis.
Isu korupsi ekspor CPO menjadi penting karena terjadi di tengah upaya pemerintah memperbaiki tata kelola industri sawit. Komoditas ini menyumbang devisa besar dan menopang perekonomian banyak daerah. Ketika kebijakan ekspor menyimpang, dampaknya langsung menyentuh harga, penerimaan negara, dan kepercayaan publik.
Kejaksaan Agung menahan 11 tersangka setelah rangkaian pemeriksaan intensif. Penyidik menyebut para tersangka berasal dari unsur penyelenggara negara dan pihak swasta. Tim penyidik menemukan indikasi pengaturan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan palm oil mill effluent (POME) secara melawan hukum sepanjang 2022 hingga 2024. Perhitungan sementara menunjukkan potensi kerugian negara berkisar Rp10 triliun hingga Rp14 triliun.
Langkah penahanan ini memicu respons luas dari publik. Pengamat hukum menilai kasus korupsi ekspor CPO menunjukkan lemahnya pengawasan kebijakan perdagangan komoditas strategis. Sejumlah kalangan mendesak penegak hukum menelusuri peran pengambil keputusan dan aktor utama, bukan hanya pelaksana teknis di lapangan.
Kasus ini juga berpotensi memengaruhi daerah penghasil sawit. Gangguan tata niaga dapat menekan harga tandan buah segar dan mengurangi pendapatan daerah. Petani sawit menghadapi risiko ketika kebijakan ekspor tidak berjalan transparan. Industri turunan sawit pun ikut menanggung ketidakpastian pasar akibat proses hukum yang berjalan.
Selain dampak ekonomi, perkara ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan lintas lembaga. Publik menilai pemerintah perlu memperkuat sistem kontrol ekspor dan memastikan kebijakan berjalan akuntabel. Transparansi menjadi kunci untuk mencegah kebocoran serupa di masa depan.
Kejaksaan Agung menyatakan penyidikan kasus POME ini terus berlanjut. Aparat menargetkan pengungkapan perkara secara menyeluruh dan pemulihan kerugian negara. Penanganan kasus korupsi ekspor CPO diharapkan mampu memperkuat tata kelola sektor sawit dan memulihkan kepercayaan masyarakat.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda

Saat ini belum ada komentar