Proyek Baterai EV Antam–IBC–CATL Produksi 2026
- account_circle adrian moita
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 262
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, duasatunews.com – Proyek baterai EV hasil kerja sama Aneka Tambang (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) akan mulai berproduksi pada semester I-2026. Dengan demikian, pemerintah menempatkan proyek ini sebagai penggerak utama industri kendaraan listrik nasional.
Pemerintah Pastikan Jadwal Produksi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan kepastian tersebut setelah proyek menjalani groundbreaking di Karawang, Jawa Barat, pada Juni 2025. Pada kesempatan itu, Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung peletakan batu pertama.
Selanjutnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan target peresmian dan awal produksi pada paruh pertama 2026.
“Kami menargetkan ekosistem baterai mobil ini mulai beroperasi pada semester I-2026,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Nilai Investasi Capai US$5,9 Miliar
Lebih lanjut, pemerintah menjalankan proyek ini sebagai bagian dari Proyek Dragon, yaitu kerja sama strategis CATL dan IBC. Oleh karena itu, pemerintah merancang proyek tersebut sebagai ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Bahlil menyebut nilai investasi proyek mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp95,6 triliun. Dengan nilai tersebut, proyek menargetkan kapasitas produksi hingga 15 gigawatt hour (GWh) per tahun. Selain itu, kapasitas tersebut diarahkan untuk memenuhi pasar domestik dan ekspor.
Dua Lokasi Utama Proyek
Pada sisi lain, pemerintah membagi investasi proyek ke dua wilayah strategis. Pertama, Maluku Utara berperan sebagai pusat industri hulu dengan investasi US$4,7 miliar. Kedua, Karawang, Jawa Barat, menjadi lokasi industri baterai hilir dengan investasi US$1,2 miliar.
“Investasi di Jawa Barat mencapai US$1,2 miliar. Sementara itu, Maluku Utara menerima US$4,7 miliar,” kata Bahlil.
Ekosistem Terintegrasi Hulu hingga Hilir
Selanjutnya, Bahlil menjelaskan bahwa proyek ini mencakup seluruh rantai produksi baterai EV. Rantai tersebut meliputi prekursor, High Pressure Acid Leach (HPAL), katoda, battery cell, dan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Dengan pembagian tersebut, pemerintah memusatkan proses hulu di Maluku Utara. Sementara itu, fasilitas Karawang fokus memproduksi battery cell. Akibatnya, kedua wilayah tersebut saling terhubung dalam satu ekosistem industri.
Pada akhirnya, pemerintah menilai proyek baterai EV ini sebagai tonggak penting hilirisasi nikel. Dengan beroperasinya proyek ini, Indonesia diharapkan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperkuat daya saing industri hijau di tingkat global.

Saat ini belum ada komentar