Menelusuri Evolusi Sungai dari Bumi Purba hingga Sumber Bencana
- account_circle Rahman
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- visibility 181
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ratusan batang kayu bulat ilegal jenis mengambang di Sungai Pawan-Ketapang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu (17/1/2026) .
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banjir bandang sering dianggap sebagai kesalahan sungai. Padahal, aliran sungai bergerak mengikuti kodrat alamnya. Cara manusia memperlakukan sungailah yang menentukan apakah air tetap terkendali atau berubah menjadi bencana. Ketika hujan ekstrem datang, kesalahan tata kelola langsung memperbesar risiko.
JAKARTA, duasatunews.com — Tuduhan kembali mengarah ke sungai saat banjir bandang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Curah hujan ekstrem membuat sungai seperti Batang Anai, Batang Kuranji, Batang Toru, dan Krueng Meureudu meluap. Aliran air berubah menjadi bah yang menyapu permukiman, jalan, serta infrastruktur vital.
Sungai Meluap, Infrastruktur Terancam
Di Sumatera Barat, banjir bandang memutus jalan penghubung Kota Padang dan Padang Panjang. Material longsor menimbun badan jalan dan menghambat arus transportasi. Pada waktu yang sama, aliran Batang Anai menggerus dinding penahan serta badan jalan. Akibatnya, sungai mengubah alurnya dan menjauh dari sisi jalan, sehingga meningkatkan ancaman kerusakan lanjutan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banjir bandang tidak hanya merusak kawasan permukiman. Infrastruktur strategis dan keselamatan warga juga menghadapi risiko serius dalam jangka panjang.
Sungai sebagai Bagian Sejarah Alam
Sesungguhnya, sungai bukan sekadar alur air yang menghadirkan ancaman. Dalam sejarah alam, sungai menjadi saksi tertua perjalanan Bumi. Jauh sebelum manusia membangun peradaban, air telah mengalir dan membentuk daratan. Proses ini mengikis bebatuan, menciptakan lembah, serta membangun dataran banjir selama jutaan tahun.
Selain itu, aliran sungai menyediakan ruang hidup bagi flora dan fauna. Dalam kondisi seimbang, sungai justru menopang kehidupan dan menjaga kestabilan lingkungan.
Tekanan Manusia Mengubah Fungsi Sungai
Pada bencana akhir 2025, para pengamat kebencanaan menyoroti perubahan fungsi sungai. Pendangkalan, penyempitan badan sungai, dan berkurangnya daerah resapan di hulu menurunkan kapasitas aliran air. Ketika hujan ekstrem turun, air tidak tertahan dan langsung mengalir deras ke wilayah hilir.
Di Sumatera Barat, Batang Anai dan Batang Kuranji berhulu di kawasan perbukitan. Secara alami, kedua sungai ini menyalurkan air hujan secara bertahap ke dataran rendah. Namun, tekanan aktivitas manusia dan perubahan bentang alam melemahkan fungsi penyangga tersebut.
Situasi serupa juga muncul di Batang Toru dan Krueng Meureudu. Aliran sungai melintasi kawasan permukiman dan infrastruktur yang terus berkembang, sementara ruang alami sungai semakin menyempit.
Mitigasi Harus Menyentuh Hulu
Peristiwa banjir bandang ini menegaskan bahwa sungai bukan sumber bencana. Sistem sungai bekerja mengikuti hukum geologi dan hidrologi. Risiko bencana meningkat ketika manusia mengganggu keseimbangan tersebut.
Oleh karena itu, penanganan banjir bandang tidak cukup mengandalkan normalisasi sungai di hilir. Upaya mitigasi perlu menyentuh wilayah hulu, penataan ruang yang bijak, serta perlindungan daerah aliran sungai secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Dengan memahami peran sungai sejak bumi purba hingga masa kini, mitigasi bencana dapat dilakukan secara lebih arif. Pendekatan ini menjadi kunci untuk mengurangi korban dan kerusakan ketika alam kembali menunjukkan kekuatannya.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: https://www.bnpb.go.id

Saat ini belum ada komentar