Rupiah Melemah pada Pembukaan Perdagangan Senin
- account_circle Rahman
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- visibility 134
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi uang rupiah dan dolar Amerika Serikat yang mencerminkan pergerakan nilai tukar di pasar valuta asing. Pada pembukaan perdagangan Senin di Jakarta, rupiah tercatat melemah terhadap dolar AS seiring dinamika pasar keuangan global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Rupiah melemah pada awal perdagangan di pasar keuangan domestik. Pelemahan ini muncul karena tekanan global yang masih memengaruhi sentimen pelaku pasar pada awal peka,
JAKARTA, duasatunews.com — Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan di pasar spot Jakarta, Senin. Sejak awal sesi, pelaku pasar menunjukkan sikap lebih berhati-hati.
Pada awal perdagangan, rupiah turun 17 poin atau 0,10 persen ke level Rp16.904 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah bergerak di posisi Rp16.887 per dolar AS. Perubahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat.
Rupiah Melemah karena Penguatan Dolar AS
Salah satu faktor utama yang menekan rupiah berasal dari penguatan dolar Amerika Serikat. Dolar AS menguat setelah pasar merespons data ekonomi global yang relatif solid. Oleh karena itu, investor kembali memilih aset yang lebih aman.
Selain itu, ekspektasi suku bunga tinggi di negara maju turut memengaruhi arus modal global. Akibatnya, sebagian dana keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat rupiah melemah pada awal perdagangan.
Sentimen Global Masih Dominan
Sementara itu, ketidakpastian ekonomi global terus membayangi pasar keuangan. Ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia mendorong investor menahan ekspansi investasi jangka pendek.
Di sisi lain, pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan bank sentral utama dunia. Setiap sinyal kebijakan moneter langsung memengaruhi pergerakan nilai tukar. Oleh sebab itu, volatilitas pasar masih berpotensi meningkat.
Faktor Domestik Menahan Tekanan
Meski tekanan global meningkat, faktor domestik tetap menopang pergerakan rupiah. Inflasi yang terkendali dan kebijakan moneter yang konsisten membantu menjaga stabilitas. Selain itu, otoritas moneter aktif memantau pergerakan pasar.
Bank sentral juga terus melakukan langkah stabilisasi. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan nilai tukar dan mengurangi gejolak berlebihan. Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah tidak berkembang lebih dalam.
Prospek Rupiah ke Depan
Ke depan, pasar akan menunggu rilis data inflasi dan tenaga kerja dari Amerika Serikat. Data tersebut akan memengaruhi arah dolar AS selanjutnya. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan global secara ketat.
Selama tekanan global berlanjut, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif. Namun, dukungan faktor domestik diharapkan mampu menjaga stabilitas jangka pendek.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Endana
- Sumber: Copyright © 2026 duasatunews.com

Saat ini belum ada komentar