Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Perjuangan Seorang Ayah: Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan Sosial-Ekonomi

Perjuangan Seorang Ayah: Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan Sosial-Ekonomi

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 462
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, Duasatunews.com | Banyak orang menyederhanakan perjuangan seorang ayah dalam menghidupi anak-anaknya dengan keterbatasan ekonomi sebagai kisah ketabahan personal. Masyarakat memotret ayah sebagai figur pekerja keras yang pantang menyerah dan rela mengorbankan tenaga serta waktu demi keluarga. Namun narasi ini, meski terdengar mulia, sering menutup persoalan yang jauh lebih besar: ketimpangan sosial dan ekonomi melanggengkan kemiskinan, bukan semata kurangnya usaha individu.

Kerja Bukan Pilihan, Melainkan Keterpaksaan

Bagi banyak ayah dari keluarga miskin, kerja bukan pilihan, melainkan keharusan tanpa jeda. Setiap hari mereka menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, dan pendapatan yang tidak pasti. Sektor informal memang menyerap jutaan tenaga kerja, tetapi sektor ini hanya menawarkan fleksibilitas semu tanpa perlindungan. Negara belum menjamin kesehatan, hari tua, atau keselamatan kerja mereka. Dalam kondisi seperti ini, kerja keras menjelma siklus bertahan hidup yang melelahkan.

Ketika Sistem Menyalahkan Individu

Sistem ekonomi sering membebankan seluruh tanggung jawab pada pundak ayah. Ketika keluarga gagal memenuhi kebutuhan dasar, masyarakat langsung menuding rendahnya etos kerja. Padahal struktur ekonomi yang timpang membuat kerja sekeras apa pun tidak cukup. Perusahaan meningkatkan produktivitas, tetapi upah tidak bergerak seiring. Sementara itu, biaya hidup terus melonjak dan menekan keluarga pekerja.

Anak-anak dan Warisan Kemiskinan

Kondisi ini langsung memukul kehidupan anak-anak. Keterbatasan ekonomi menurunkan kualitas gizi, membatasi akses pendidikan, dan mempersempit ruang tumbuh yang layak. Banyak anak belajar dengan fasilitas minim, bahkan sebagian ikut bekerja sejak usia dini. Situasi ini tidak mencerminkan kegagalan orang tua. Negara gagal menjamin hak dasar warga ketika pendidikan dan kesehatan masih bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. Akibatnya, kemiskinan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Romantisasi Penderitaan Ayah

Media dan ruang publik kerap mengangkat kisah ayah pekerja keras sebagai inspirasi. Publik merayakan pengorbanan mereka dengan rasa haru. Namun apresiasi ini sering berhenti pada emosi, tanpa mendorong perubahan kebijakan. Romantisasi penderitaan membuat ketidakadilan tampak wajar. Masyarakat tersentuh oleh kisah ayah miskin, tetapi jarang mempertanyakan mengapa sistem terus memaksa mereka hidup dalam kondisi yang sama.

Negara, Kebijakan, dan Tanggung Jawab

Negara tidak boleh hanya hadir melalui slogan atau bantuan sementara. Program bantuan sosial memang membantu, tetapi tidak menyentuh akar persoalan jika pemerintah mengabaikan reformasi struktural. Negara harus menjamin upah layak, melindungi pekerja informal, serta menyediakan pendidikan dan kesehatan yang benar-benar merata. Tanpa langkah ini, ayah akan terus memilih antara bekerja lebih lama atau kehilangan waktu bersama keluarga.

Dari Simpati Menuju Perubahan

Perjuangan seorang ayah mencerminkan kegagalan kolektif. Kebijakan ekonomi lebih sering mengejar pertumbuhan statistik daripada kualitas hidup manusia. Ketika pemerintah mengabaikan pemerataan, jurang antara pemilik modal dan pekerja semakin melebar. Ayah-ayah kelas pekerja menempati posisi paling rentan dalam struktur ini.

Keadilan Sosial sebagai Penutup

Opini ini tidak meniadakan nilai ketabahan dan tanggung jawab personal seorang ayah. Nilai tersebut tetap penting dan layak dihormati. Namun penghormatan sejati menuntut tindakan nyata. Kebijakan publik harus memastikan kerja keras menghasilkan kehidupan yang layak, bukan sekadar kemampuan bertahan.

Masyarakat juga perlu bergerak. Empati sosial harus berubah menjadi kesadaran kolektif yang mendorong perubahan. Ketika kita melihat seorang ayah bekerja keras dalam keterbatasan, kita perlu bertanya: mengapa sistem memaksanya bertahan seperti ini?

Pada akhirnya, seorang ayah berhak bermimpi tentang masa depan anak-anaknya, bukan hanya menghitung kecukupan hari ini. Kerja keras seharusnya membuka jalan menuju pendidikan, kesehatan, dan kehidupan bermartabat. Selama sistem sosial-ekonomi gagal menyelaraskan kerja keras dengan kesejahteraan, perjuangan ayah akan terus menjadi kisah sunyi yang diwariskan lintas generasi.

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BAPEMNUS Resmikan Sekretariat, Tegaskan Arah Perjuangan dan Agenda Strategis Pemuda Mahasiswa Nusantara

    BAPEMNUS Resmikan Sekretariat, Tegaskan Arah Perjuangan dan Agenda Strategis Pemuda Mahasiswa Nusantara

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Brian putra
    • visibility 622
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com – 5 Januari 2026  Barisan Pemuda Mahasiswa Nusantara (BAPEMNUS) meresmikan Sekretariat Nasional sebagai pusat koordinasi gerakan pemuda dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui peresmian ini, BAPEMNUS memperkuat struktur organisasi sekaligus memperluas peran advokasi sosial, hukum, dan kebangsaan. Sekretariat Nasional Jadi Pusat Gerakan Ketua Umum BAPEMNUS, Nabil Dean, menyatakan bahwa sekretariat nasional […]

  • Proyek Jembatan Sambandete Disorot, IPMKU-Jakarta Desak Aparat Bongkar Seluruh Proses

    Proyek Jembatan Sambandete Disorot, IPMKU-Jakarta Desak Aparat Bongkar Seluruh Proses

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Admin 21
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Jakarta, (DUASATUNEWS.COM) — Pembangunan Jembatan Sambandete, Kabupaten Konawe Utara, kembali di sorot. Ikatan Pemuda Mahasiswa Konawe Utara (IPMKU)-Jakarta menggelar aksi di Jakarta, Rabu (23/9/2026), Dalam aksi “Seruan Aksi Jilid I”, IPMKU-Jakarta mendesak Kementerian PU RI, Kejaksaan Agung RI, KPK RI, dan Mabes Polri untuk turun langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dalam Orasinya, Pandi Bastian selaku jenderal […]

  • BYD Salip Tesla, Jadi Raja Mobil Listrik Dunia

    BYD Salip Tesla, Jadi Raja Mobil Listrik Dunia

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 713
    • 0Komentar

    Jakarta, duasatunews.com – BYD geser Tesla EV pada 2025 setelah produsen otomotif asal China tersebut mencatat penjualan kendaraan listrik tertinggi secara global. Pergeseran ini mengubah peta persaingan industri otomotif dunia yang sebelumnya dikuasai produsen Amerika Serikat. Keberhasilan BYD mencerminkan pergeseran kekuatan industri EV global menuju Asia, seiring meningkatnya kapasitas produksi dan efisiensi biaya. Dominasi Produsen […]

  • Motor Listrik MBG yang menjadi bagian proyek pengadaan program Makan Bergizi Gratis senilai Rp1 triliun.

    Motor Listrik MBG Tak Disita, Ini Alasan Kejagung

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 215
    • 0Komentar

    JAKARTA (duasatunews.com) – Kejaksaan Agung (Kejagung) menjelaskan alasan tidak menyita 21.801 unit motor listrik dalam proyek program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masuk dalam penyidikan kasus dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN). Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Syarief, mengatakan motor listrik itu sudah tersebar ke berbagai daerah. Karena itu, penyidik tidak menarik seluruh kendaraan […]

  • aturan tanah telantar Prabowo menyasar lahan kosong yang tidak dimanfaatkan

    Aturan Tanah Telantar Prabowo: Negara Kini Bisa Ambil Alih Lahan Menganggur

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 337
    • 0Komentar

    JAKARTA, duasatunews.com – Aturan tanah telantar Prabowo menempatkan isu penguasaan lahan kembali di pusat perhatian publik. Kebijakan ini menyasar tanah yang dikuasai pemilik hak namun dibiarkan menganggur, sementara kebutuhan lahan untuk perumahan, pangan, dan pembangunan daerah terus meningkat. Penelantaran Lahan Dinilai Merugikan Publik Pemerintah menilai praktik penelantaran tanah memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi. Banyak lahan […]

  • Pemburu Masa Depan Pemuda 21 dalam kegiatan Bina Akrab tahun 2023

    PEMBURU MASA DEPAN

    • calendar_month Senin, 17 Mar 2025
    • account_circle Admin 21
    • visibility 981
    • 0Komentar

    JAKARTA, duasatunews.com – Pertama, saya menghirup udara di dalam pesawat dengan jantung berdebar. Sejak saat itu, saya menyadari perjalanan ini masih panjang. Oleh karena itu, saya bersiap menghadapi proses dan dinamika yang berliku. Ketika ombak mengguncang bahtera kehidupan yang memuat jutaan manusia, maka pendidikan hadir sebagai nahkoda penunjuk arah keselamatan. Mimpi, Proses, dan Seleksi Alam […]

expand_less