Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Perjuangan Seorang Ayah: Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan Sosial-Ekonomi

Perjuangan Seorang Ayah: Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan Sosial-Ekonomi

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 272
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, Duasatunews.com | Banyak orang menyederhanakan perjuangan seorang ayah dalam menghidupi anak-anaknya dengan keterbatasan ekonomi sebagai kisah ketabahan personal. Masyarakat memotret ayah sebagai figur pekerja keras yang pantang menyerah dan rela mengorbankan tenaga serta waktu demi keluarga. Namun narasi ini, meski terdengar mulia, sering menutup persoalan yang jauh lebih besar: ketimpangan sosial dan ekonomi melanggengkan kemiskinan, bukan semata kurangnya usaha individu.

Kerja Bukan Pilihan, Melainkan Keterpaksaan

Bagi banyak ayah dari keluarga miskin, kerja bukan pilihan, melainkan keharusan tanpa jeda. Setiap hari mereka menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, dan pendapatan yang tidak pasti. Sektor informal memang menyerap jutaan tenaga kerja, tetapi sektor ini hanya menawarkan fleksibilitas semu tanpa perlindungan. Negara belum menjamin kesehatan, hari tua, atau keselamatan kerja mereka. Dalam kondisi seperti ini, kerja keras menjelma siklus bertahan hidup yang melelahkan.

Ketika Sistem Menyalahkan Individu

Sistem ekonomi sering membebankan seluruh tanggung jawab pada pundak ayah. Ketika keluarga gagal memenuhi kebutuhan dasar, masyarakat langsung menuding rendahnya etos kerja. Padahal struktur ekonomi yang timpang membuat kerja sekeras apa pun tidak cukup. Perusahaan meningkatkan produktivitas, tetapi upah tidak bergerak seiring. Sementara itu, biaya hidup terus melonjak dan menekan keluarga pekerja.

Anak-anak dan Warisan Kemiskinan

Kondisi ini langsung memukul kehidupan anak-anak. Keterbatasan ekonomi menurunkan kualitas gizi, membatasi akses pendidikan, dan mempersempit ruang tumbuh yang layak. Banyak anak belajar dengan fasilitas minim, bahkan sebagian ikut bekerja sejak usia dini. Situasi ini tidak mencerminkan kegagalan orang tua. Negara gagal menjamin hak dasar warga ketika pendidikan dan kesehatan masih bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. Akibatnya, kemiskinan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Romantisasi Penderitaan Ayah

Media dan ruang publik kerap mengangkat kisah ayah pekerja keras sebagai inspirasi. Publik merayakan pengorbanan mereka dengan rasa haru. Namun apresiasi ini sering berhenti pada emosi, tanpa mendorong perubahan kebijakan. Romantisasi penderitaan membuat ketidakadilan tampak wajar. Masyarakat tersentuh oleh kisah ayah miskin, tetapi jarang mempertanyakan mengapa sistem terus memaksa mereka hidup dalam kondisi yang sama.

Negara, Kebijakan, dan Tanggung Jawab

Negara tidak boleh hanya hadir melalui slogan atau bantuan sementara. Program bantuan sosial memang membantu, tetapi tidak menyentuh akar persoalan jika pemerintah mengabaikan reformasi struktural. Negara harus menjamin upah layak, melindungi pekerja informal, serta menyediakan pendidikan dan kesehatan yang benar-benar merata. Tanpa langkah ini, ayah akan terus memilih antara bekerja lebih lama atau kehilangan waktu bersama keluarga.

Dari Simpati Menuju Perubahan

Perjuangan seorang ayah mencerminkan kegagalan kolektif. Kebijakan ekonomi lebih sering mengejar pertumbuhan statistik daripada kualitas hidup manusia. Ketika pemerintah mengabaikan pemerataan, jurang antara pemilik modal dan pekerja semakin melebar. Ayah-ayah kelas pekerja menempati posisi paling rentan dalam struktur ini.

Keadilan Sosial sebagai Penutup

Opini ini tidak meniadakan nilai ketabahan dan tanggung jawab personal seorang ayah. Nilai tersebut tetap penting dan layak dihormati. Namun penghormatan sejati menuntut tindakan nyata. Kebijakan publik harus memastikan kerja keras menghasilkan kehidupan yang layak, bukan sekadar kemampuan bertahan.

Masyarakat juga perlu bergerak. Empati sosial harus berubah menjadi kesadaran kolektif yang mendorong perubahan. Ketika kita melihat seorang ayah bekerja keras dalam keterbatasan, kita perlu bertanya: mengapa sistem memaksanya bertahan seperti ini?

Pada akhirnya, seorang ayah berhak bermimpi tentang masa depan anak-anaknya, bukan hanya menghitung kecukupan hari ini. Kerja keras seharusnya membuka jalan menuju pendidikan, kesehatan, dan kehidupan bermartabat. Selama sistem sosial-ekonomi gagal menyelaraskan kerja keras dengan kesejahteraan, perjuangan ayah akan terus menjadi kisah sunyi yang diwariskan lintas generasi.

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • bos sritex dituntut 16 tahun di sidang tipikor semarang

    Bos Sritex Dituntut 16 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Kredit

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Adrian Moita
    • visibility 101
    • 0Komentar

    SEMARANG (duasatunews.com) – Bos Sritex dituntut 16 tahun penjara dalam kasus dugaan korupsi fasilitas kredit. Jaksa menuntut Komisaris Utama Iwan Setiawan Lukminto dan Direktur Utama Iwan Kurniawan Lukminto masing-masing 16 tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Semarang. Jaksa Penuntut Umum Fajar Santoso membacakan tuntutan pada Senin. Selain pidana penjara, jaksa menuntut denda […]

  • Koalisi Sanae Takaichi menang pemilu Jepang dengan mayoritas super

    Sanae Takaichi menang pemilu Jepang bersama koalisi pemerintah

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Jakarta, (duasatunews.com) – Sanae Takaichi menang pemilu Jepang setelah koalisi pemerintah yang ia pimpin meraih kemenangan besar dalam pemilu nasional pada Minggu (8/2). Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berhasil mengamankan dukungan mayoritas super di parlemen, sehingga memperkuat posisi pemerintahannya untuk lima tahun ke depan. Kemenangan ini membuka jalan bagi agenda kebijakan strategis, termasuk rencana pemotongan […]

  • Susiwijono Moegiarso menjelaskan investigasi tarif AS Indonesia kepada media

    RI Perkuat Posisi Dagang, Temui USTR Bahas Investigasi Tarif AS

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Retanto
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Jakarta, (Duasatunews.com) — Investigasi tarif AS Indonesia memasuki tahap lanjutan. Pemerintah Indonesia akan bertemu dengan United States Trade Representative (USTR) pada 12 Mei 2026 untuk mengklarifikasi data perdagangan yang telah disampaikan sebelumnya. Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyatakan pertemuan ini bersifat prosedural. Pemerintah tidak menemukan persoalan baru dalam proses tersebut. Ia menegaskan komunikasi sebelumnya telah […]

  • Ilustrasi ambil paspor diwakilkan di kantor imigrasi dengan dokumen seperti surat kuasa, KTP, dan kartu keluarga.

    Ambil Paspor Diwakilkan: Syarat dan Dokumen

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Reski
    • visibility 130
    • 1Komentar

    Jakarta,(duasatunews.com)//Pengambilan paspor diwakilkan memberi solusi praktis bagi pemohon yang tidak bisa datang ke kantor imigrasi. Layanan ini membantu masyarakat menyelesaikan administrasi tanpa hadir langsung. Selain itu, kebijakan ini memudahkan pekerja dengan jadwal padat dan pemohon dari luar kota. Direktorat Jenderal Imigrasi menetapkan batas pengambilan paspor selama 30 hari setelah selesai. Jika pemohon melewati batas tersebut, […]

  • Pembangunan Papua berbasis etnosains didorong Wamen HAM agar kebijakan lebih selaras dengan kebutuhan masyarakat adat.

    Wamen HAM: Pembangunan Papua Harus Berbasis Etnosains dan Kearifan Lokal

    • calendar_month 4 jam yang lalu
    • account_circle Reski
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Jakarta,(duasatunews.com)– Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Mugiyanto mendorong pemerintah menjadikan etnosains sebagai fondasi pembangunan di Papua. Ia menilai pendekatan tersebut mampu menghasilkan kebijakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat adat sekaligus memperkuat penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pernyataan itu disampaikan Mugiyanto saat menghadiri Konferensi APS ke-3 di Papua Youth Creative Hub (PYCH), Jayapura, Jumat […]

  • KM Cahaya Intan Celebes tenggelam di Perairan Poleang Bombana

    KM Cahaya Intan Celebes Tenggelam di Perairan Bombana

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 290
    • 0Komentar

    BOMBANA, (duasatunews.com) – KM Cahaya Intan tenggelam di Perairan Poleang, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra), Sabtu (14/2/2026). Sejak awal pelayaran, kapal motor GT 44 itu melayani rute Pelabuhan Bajoe, Kota Bone, menuju Pelabuhan Boepinang. Selain itu, kapal membawa 13 penumpang dan tujuh awak kapal. Namun demikian, seluruh penumpang dan kru selamat dari insiden tersebut. Humas […]

expand_less