Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Perjuangan Seorang Ayah: Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan Sosial-Ekonomi

Perjuangan Seorang Ayah: Bertahan Hidup di Tengah Ketimpangan Sosial-Ekonomi

  • account_circle Rahman
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 134
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, duasatunews.com | Banyak orang menyederhanakan perjuangan seorang ayah dalam menghidupi anak-anaknya dengan keterbatasan ekonomi sebagai kisah ketabahan personal. Masyarakat memotret ayah sebagai figur pekerja keras yang pantang menyerah dan rela mengorbankan tenaga serta waktu demi keluarga. Namun narasi ini, meski terdengar mulia, sering menutup persoalan yang jauh lebih besar: ketimpangan sosial dan ekonomi melanggengkan kemiskinan, bukan semata kurangnya usaha individu.

Kerja Bukan Pilihan, Melainkan Keterpaksaan

Bagi banyak ayah dari keluarga miskin, kerja bukan pilihan, melainkan keharusan tanpa jeda. Setiap hari mereka menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, dan pendapatan yang tidak pasti. Sektor informal memang menyerap jutaan tenaga kerja, tetapi sektor ini hanya menawarkan fleksibilitas semu tanpa perlindungan. Negara belum menjamin kesehatan, hari tua, atau keselamatan kerja mereka. Dalam kondisi seperti ini, kerja keras menjelma siklus bertahan hidup yang melelahkan.

Ketika Sistem Menyalahkan Individu

Sistem ekonomi sering membebankan seluruh tanggung jawab pada pundak ayah. Ketika keluarga gagal memenuhi kebutuhan dasar, masyarakat langsung menuding rendahnya etos kerja. Padahal struktur ekonomi yang timpang membuat kerja sekeras apa pun tidak cukup. Perusahaan meningkatkan produktivitas, tetapi upah tidak bergerak seiring. Sementara itu, biaya hidup terus melonjak dan menekan keluarga pekerja.

Anak-anak dan Warisan Kemiskinan

Kondisi ini langsung memukul kehidupan anak-anak. Keterbatasan ekonomi menurunkan kualitas gizi, membatasi akses pendidikan, dan mempersempit ruang tumbuh yang layak. Banyak anak belajar dengan fasilitas minim, bahkan sebagian ikut bekerja sejak usia dini. Situasi ini tidak mencerminkan kegagalan orang tua. Negara gagal menjamin hak dasar warga ketika pendidikan dan kesehatan masih bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. Akibatnya, kemiskinan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Romantisasi Penderitaan Ayah

Media dan ruang publik kerap mengangkat kisah ayah pekerja keras sebagai inspirasi. Publik merayakan pengorbanan mereka dengan rasa haru. Namun apresiasi ini sering berhenti pada emosi, tanpa mendorong perubahan kebijakan. Romantisasi penderitaan membuat ketidakadilan tampak wajar. Masyarakat tersentuh oleh kisah ayah miskin, tetapi jarang mempertanyakan mengapa sistem terus memaksa mereka hidup dalam kondisi yang sama.

Negara, Kebijakan, dan Tanggung Jawab

Negara tidak boleh hanya hadir melalui slogan atau bantuan sementara. Program bantuan sosial memang membantu, tetapi tidak menyentuh akar persoalan jika pemerintah mengabaikan reformasi struktural. Negara harus menjamin upah layak, melindungi pekerja informal, serta menyediakan pendidikan dan kesehatan yang benar-benar merata. Tanpa langkah ini, ayah akan terus memilih antara bekerja lebih lama atau kehilangan waktu bersama keluarga.

Dari Simpati Menuju Perubahan

Perjuangan seorang ayah mencerminkan kegagalan kolektif. Kebijakan ekonomi lebih sering mengejar pertumbuhan statistik daripada kualitas hidup manusia. Ketika pemerintah mengabaikan pemerataan, jurang antara pemilik modal dan pekerja semakin melebar. Ayah-ayah kelas pekerja menempati posisi paling rentan dalam struktur ini.

Keadilan Sosial sebagai Penutup

Opini ini tidak meniadakan nilai ketabahan dan tanggung jawab personal seorang ayah. Nilai tersebut tetap penting dan layak dihormati. Namun penghormatan sejati menuntut tindakan nyata. Kebijakan publik harus memastikan kerja keras menghasilkan kehidupan yang layak, bukan sekadar kemampuan bertahan.

Masyarakat juga perlu bergerak. Empati sosial harus berubah menjadi kesadaran kolektif yang mendorong perubahan. Ketika kita melihat seorang ayah bekerja keras dalam keterbatasan, kita perlu bertanya: mengapa sistem memaksanya bertahan seperti ini?

Pada akhirnya, seorang ayah berhak bermimpi tentang masa depan anak-anaknya, bukan hanya menghitung kecukupan hari ini. Kerja keras seharusnya membuka jalan menuju pendidikan, kesehatan, dan kehidupan bermartabat. Selama sistem sosial-ekonomi gagal menyelaraskan kerja keras dengan kesejahteraan, perjuangan ayah akan terus menjadi kisah sunyi yang diwariskan lintas generasi.

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Makan Bergizi Gratis diresmikan Presiden Prabowo

    Makan Bergizi Gratis Polri Dapat Apresiasi Presiden Prabowo

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Jakarta, (duasatunews.com) — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan apresiasi kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) atas peran aktifnya dalam pelaksanaan Makan Bergizi Gratis Polri. Presiden menilai langkah tersebut menjawab persoalan mendasar yang berpengaruh langsung terhadap keselamatan dan masa depan bangsa. Apresiasi itu Presiden sampaikan saat meresmikan dan melakukan groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi […]

  • pemuda pemburu masa depan dalam kegiatan sosial

    PEMUDA PEMBURU MASA DEPAN

    • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
    • account_circle Dr. Eni Samayati
    • visibility 342
    • 0Komentar

    jakarta, duasatunews.com – Pemuda pemburu masa depan adalah generasi muda visioner yang berani menghadapi perubahan, menolak hidup tanpa arah, dan secara sadar membangun masa depan bangsa. Saat dunia bergerak semakin cepat, pemuda berada pada posisi strategis untuk menentukan apakah perubahan membawa peluang atau justru tantangan. Seiring berkembangnya teknologi dan meningkatnya persaingan global, pemuda tidak bisa […]

  • sidang vonis ABK Sea Dragon di Pengadilan Negeri Batam

    Vonis ABK Sea Dragon: DPR Syukuri Terdakwa Tak Dihukum Mati

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle adrian moita
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Jakarta, (duasatunews.com) – Vonis ABK Sea Dragon dalam kasus penyelundupan sabu hampir dua ton menjadi sorotan publik. Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menyatakan bersyukur karena majelis hakim Pengadilan Negeri Batam tidak menjatuhkan hukuman mati kepada terdakwa Fandi Ramadhan. Fandi merupakan anak buah kapal (ABK) kapal Sea Dragon yang terlibat dalam kasus penyelundupan narkotika jenis […]

  • tampak udara bandara khusus IMIP Morowali kawasan industri nikel

    Bandara khusus IMIP Morowali Jadi Sorotan Nasional, Panda Nababan Pertanyakan Peran Intelejen Negara

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 273
    • 0Komentar

    JAKARTA, Duasatunews.com — Keberadaan bandara khusus di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, kini menuai sorotan nasional. Publik mempertanyakan minimnya pengawasan negara terhadap bandara tersebut, meski fasilitas itu telah beroperasi selama bertahun-tahun. Isu ini mencuat setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengunjungi bandara tersebut. Ia secara terbuka mempertanyakan sistem pengamanan dan pengawasan negara terhadap […]

  • JK Respons Prabowo disampaikan Jusuf Kalla saat memberi keterangan di Jakarta

    JK Ragukan Peran Prabowo sebagai Mediator Konflik AS–Israel dan Iran

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 154
    • 0Komentar

    JAKARTA, (Duasatunews.com) — Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meragukan rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia menilai posisi Indonesia belum cukup kuat untuk memainkan peran tersebut. JK menyampaikan pandangan itu di Jakarta, Minggu (1/3). Ia menilai hubungan Indonesia dan Amerika Serikat belum setara, terutama setelah kesepakatan […]

  • tersangka korupsi ekspor CPO dan POME dikawal Kejaksaan Agung

    Kejagung Tahan 11 Tersangka Korupsi Ekspor CPO dan POME, Negara Berpotensi Rugi Hingga Rp14 Triliun

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Rahman
    • visibility 118
    • 0Komentar

    JAKARTA, duasatunews.com – Korupsi ekspor CPO kembali menjadi sorotan publik setelah aparat penegak hukum menahan sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam penyimpangan kebijakan perdagangan sawit. Kasus ini mengancam keuangan negara hingga belasan triliun rupiah dan memperlihatkan rapuhnya pengawasan sektor strategis. Isu korupsi ekspor CPO menjadi penting karena terjadi di tengah upaya pemerintah memperbaiki tata kelola […]

expand_less