Kemarau 2026 Diprediksi Mulai April, BMKG Jelaskan Perbedaan Pola Musim RI
- account_circle Rahman
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- visibility 152
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (kanan) saat menghadiri agenda resmi di Jakarta. (Foto: Dok. BMKG)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, (Duasatunews.com) – Musim kemarau 2026 Indonesia diperkirakan mulai berlangsung bertahap sejak April, terutama di wilayah selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan prediksi tersebut setelah memantau tren penurunan curah hujan di sejumlah wilayah.
Wilayah selatan seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diproyeksikan mengakhiri musim hujan pada periode Februari hingga Maret 2026. Setelah fase tersebut, wilayah ini memasuki masa peralihan sebelum kemarau berlangsung penuh hingga sekitar September.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi geografis Indonesia memengaruhi perbedaan pola musim. Karena itu, BMKG tidak menetapkan satu jadwal musim yang sama untuk seluruh daerah.
“Wilayah selatan umumnya mulai masuk musim kemarau sejak April dan berlanjut sampai September,” kata Faisal saat ditemui di Jakarta.
BMKG juga memprediksi musim hujan kembali datang pada Oktober 2026. Pergeseran angin monsun dan meningkatnya aktivitas atmosfer mendorong pembentukan awan hujan pada periode tersebut.
Perbedaan Musim Kemarau 2026 Indonesia di Wilayah Ekuator
Wilayah dekat garis ekuator menunjukkan pola musim yang berbeda. Daerah seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengalami dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam satu tahun.
Saat ini, beberapa wilayah di Sumatra bagian utara mulai memasuki fase awal kemarau. Kondisi ini belum memicu kekeringan ekstrem. BMKG masih melihat potensi hujan muncul kembali pada April hingga Juni sebelum fase kering berikutnya.
BMKG menilai letak geografis, topografi wilayah, dan sirkulasi angin regional memengaruhi perbedaan musim antarwilayah. Perbedaan ini berdampak langsung pada sektor pertanian, pengelolaan air, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, BMKG mengingatkan bahwa awal musim kemarau tidak selalu identik dengan cuaca panas ekstrem. Beberapa daerah masih berpotensi mengalami hujan lokal akibat pengaruh kelembapan udara dan kondisi atmosfer setempat.
BMKG mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk rutin memantau prakiraan cuaca resmi. Informasi tersebut membantu perencanaan aktivitas dan mitigasi risiko selama musim kemarau 2026 Indonesia.
- Penulis: Rahman
- Editor: Nur Wayda
- Sumber: https://www.bmkg.go.id

Saat ini belum ada komentar